Biografi Nabi Muhammad SAW

TAHUN 571 Masehi, Mekkah diserbu pasukan bergajah. Pasukan itu dipimpin oleh Gubernur Mesir Abrahah. Tujuannya untuk menghancurkan Kakbah. Tapi tidak berhasil. Allah mengirimkan burung Ababil untuk menghancurkan mereka.

Beberapa bulan setelahnya, tepat pada hari Senin 22 April 571 Masehi, Nabi Muhammad SAW lahir. Ibunya bernama Sitti Aminah. Ayahnya bernama Abdullah. 

Tapi Abdullah lebih dulu meninggal saat Muhammad dalam kandungan. Sehingga ia lahir sebagai anak yatim.

Nabi Muhammad merupakan keturunan suku Quraisy. Kakeknya, Abdul Muthalib merupakan ketua suku tersebut.

Setelah lahir, Nabi Muhammad disusui oleh Halima Sa'diayah, dari suku Banu Saad. Halimahlah yang merawatnya hingga tumbuh jadi anak-anak.

Pada masa kanak-kanak Muhammad, berbagai kejadian aneh ditemukan Halima. Sehingga ia dikembalikan kepada ibu kandungnya, Aminah.

Aminah tentu sangat senang. Beberapa saat kemudian, ia membawa Muhammad ke Yastrib.

Di sana, Abdullah, ayah Muhammad di makamkan. Mereka berziarah dan tinggal selama sebulan. Namun, ketika kembali ke Makkah, Aminah jatuh sakit hingga meninggal. Muhammad pun jadi yatim piatu. Usianya masih 6 tahun.

Akhirnya Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Dua tahun kemudian, sang kakek juga berpulang. Muhammad sangat sedih.

Selanjutnya Muhammad ikut bersama pamannya, Abu Thalib. Ia sangat menyayangi Muhammad. Tidak ingin jauh. Bahkan saat pergi ke Suriah berdagang, Muhammad juga dibawa.

Bersama pamannya, Muhammad tumbuh dewasa. Ia bahkan ikut berperang diusia 15 tahun. Saat itu suku Quraisy dengan suku Arab lainnya saling berperang. Perang itu bernama perang Fijar.

Di kalangan bangsa Arab, Muhammad dikenal sebagai orang jujur dan dapat dipercaya. Utamanya dalam berdagang. Ia adil dan terbuka dalam bertransaksi.

Suatu ketika nabi Muhammad menjual beberapa ekor unta kepada seseorang. Setelah orang itu pergi, Nabi ingat bahwa salah satu unta itu pincang. 

Seketika beliau menunggangi kuda dan memacunya untuk mengejar orang tersebut. Beliau mengembalikan uang seharga unta pincang itu dan mengambil kembali unta tersebut.

Karena kejujurannya, seorang janda kaya tertarik untuk menjadikannya agen. Janda kaya itu bernama Khadija. 

Lama kelamaan Khadija pun jatuh hati padanya dan menikah. Khadijah berusia 40 tahun. Muhammad 25 tahun.

Meski terpaut 15 tahun, pasangan itu hidup bahagia. Berdagang bersama.

Seiring berlalunya waktu, Nabi Muhammad mulai kehilangan minat pada usaha dagangnya. Ia mulai berpikir untuk memperbaiki masalah dalam kehidupan masyarakat. 

Ia pergi ke Gua Hira. Di sana Muhammad larut dalam permenungan selama berjam-jam bahkan berhari-hari. Ia mencari jawaban misteri kehidupan.

Suatu malam di bulan Ramadhan tahun 610 M, Malaikat Jibril muncul di hadapannya. Dia membawa pesan pertama dari Allah. Iqra. Bacalah.

Nabi diseru untuk menyampaikan kehendak Allah kepada seluruh umat manusia. Wakti itu, Muhammad sudah berusia 40 tahun.

Beberapa bulan kemudian, Malaikat Jibril datang lagi. Ia menyampaikan perintah Allah untuk menghentikan manusia dari kejahatan dan menyeru untuk menyembah Allah. Misi ketuhanan dimulai.

Awalnya misi itu disampaikan secara sembunyi-sembunyi. Istrinya, Khadijah masuk Islam lebih dulu. Disusul Ali, Abu Bakar, dan sahabat terdekat Nabi.

Kemudian datang perintah Allah untuk disampaikan secara terang-terangan. Pergilah Nabi ke Bukit Safa. Lalu memanggil orang-orang.

"Jika aku beritahu kalian bahwa satu pasukan besar sedang bersembunyi di belakang gunung ini dan siap untuk menyerangmu, apakah kalian akan percaya padaku?" kata Nabi.

"Tentu saja kami percaya," teriak ratusan orang. "Kami tahu engkau tidak pernah berbohong."

"Maka dengarkanlah," kata Nabi.

"Kalian tidak boleh menyembah kecuali Allah yang Esa. Jika kalian tidak melakukan ini, nasib sedih akan menimpamu. Kemudian kalian akan merasa menyesal, tetapi sudah terlambat. Aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk kalian, meskipun kalian kerabatku sendiri," kata Nabi.

Maka tiba-tiba luapan kemarahan meledak.

"Dia telah gila," kata mereka lalu bubar meninggalkan Nabi.

Sejak saat itu Islam mulai terdengar secara luas. Ancaman terhadap Nabi makin nyata. Tawaran demi tawaran pun diminta kepada Nabi agar menghentikan ajaran Islam. Namun semua itu ditolak.

"Demi Allah. Seandainya penduduk Mekkah meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan mengentikan tugas ini," kata Nabi.

Satu demi satu orang masuk Islam. Namun tekanan ancaman pun makin nyata. Bahkan Nabi akan dibunuh.

Karena ancaman makin banyak, Nabi bersama kaum muslimin lainnya melakukan hijrah ke Habasyah. 

Tidak lama kemudian, paman Muhammad, Abu Thalib meninggal diusia 80 tahun. Kemudian disusul istrinya, Khadijah juga berpulang. Nabi sangat sedih. Waktu itu disebut juga dengan tahun duka cita.

Setelah itu, pada tahun kesepuluh kenabian, terjadi peristiwa Mi'raj. Suatu malam, Malaikat Jibril datang membawa pesan bahwa Allah ingin bertemu rasul-Nya. 

Perjalanan dilakukan dengan seekor kuda bersayap (Buraq) ke langit ketujuh. Di sana, Nabi berdiri di depan Arsy. Pembicaraan dari hati ke hati dari balik tabir berlangsung. Hal tersebut terjadi hanya semalam. Kemudian Nabi kembali.

Karena mendapat tantangan dan ancaman di Mekah, Nabi bersama rombongan hijrah ke Madinah. Mereka sebagai kaum muhajirin disambut hangat kaum Anshar atau penduduk Madinah.

Mendapat kabar Islam berkembang pesat di Madinah, suku Quraisy di Mekah ingin menyerang Nabi dan kaum muslimin di Madinah.

Hari Jumat, 17 Ramadan 2 Hijriah, terjadi perang Badar. Nabi memimpin 313 pasukan. Sementara musuh dari Mekkah berkekuatan 1000 orang. Meski jumlah pasukan Quraisy tiga kali lipat lebih banyak, berkat pertolongan Allah, kaum muslimin menang.

Tidak terima dengan kekalahan itu, kaum Quraisy kembali melakukan serangan di tahun berikutnya dengan pasukan lebih banyak. 3000 orang.

Tepat 11 Syawal 3 Hijriah, perang Uhud pecah. Pada perang kali ini, kaum muslimin sempat kewalahan sehingga banyak pasukan terluka hingga meninggal. Nabi saat itu juga ikut terluka. Tapi lagi-lagi mereka bisa memenangkan peperangan itu.

Pada tahun keenam hijriah, Nabi berangkat menuju ke Mekah untuk mengunjungi Kakbah. Ia berkemah di Hudaibiyah bersama 1400 orang.

Sebelum ke Mekah, Nabi mengirim pesan kepada suku Quraisy terkait perundingan perdamaian. Setelah berunding, Suku Quraisy sepakat menandatangani perjanjian damai.

Namun dua tahun kemudian perjanjian itu dilanggar kaum Quraisy. Sehingga kembali terjadi peperangan yang dimenangkan oleh Nabi. Sebagian musuh yang kalah waktu itu pun masuk Islam.

Ternyata, dengan menguasai Madinah dan Mekkah, tidak mengakhiri pertentangan terhadap Islam. Bani Tsaqif, suku yang berkuasa di Taif tidak terima dengan Islam. 

Sehingga melakukan peperangan dengan kaum muslimin yang disebut perang Hunain. Tapi kaum muslimin lagi-lagi menang.

Pada tahun kesembilan hijriah berlangsung haji pertama di bawah Islam. Nabi memimpinnya langsung.

Tahun kesembilan dan kesepuluh hijriah ditandai dengan penyebaran Islam yang cepat.

Haji kedua di bawah Islam menjadi penanda besar dalam sejarah agama itu. Ini merupakan haji terakhir nabi SAW.

Pada musim ini beliau menyampaikan pesan terakhirnya kepada kaum muslimin. Haji ini juga menandai kesempurnaan agama Islam.

Dua bulan setelah haji tersebut, Nabi SAW jatuh sakit. Beliau mengalami demam tinggi dan sakit kepala parah. Hingga hidupnya berakhir diusia 63 tahun pada Senin 12 Rabiul Awal atau 8 Juni 632 Masehi.(*)

signature
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url