FOMO Threads, Penantang Baru Twitter

Tangkapan layar Threads

GROUP WhatsApp komunitas blogger di Makassar tetiba ramai kemarin. Meski hampir tiap hari sih ramai dengan pembahasan seputar blog atau perkembangan teknologi yang menarik untuk diulas di blog.

Tapi pembahasan kemarin adalah sesuatu yang baru bagi saya, juga masyarakat Indonesia, bahkan netizen dunia. Threads.

"Adami tempat share blog," kata seseorang memulai percakapan disertai tangkapan layar Threads.

Pesan tersebut langsung mendapat respon dari teman-teman yang lain. Sebagai anak baru yang introvert, saya hanya menyimak diskusi mereka. Hahaha.

Ada yang merespon mengaku sudah menginstal dan menggunakannya, ada yang mengaku sudah mengetahui dan masih ragu untuk memulainya, 

ada juga yang belum tahu sama sekali apa itu Thread, seperti saya.

"Buat apa sih itu?" seseorang bertanya.

Diskusi pun dimulai. Yang sudah mengetahui menjelaskan kepada yang belum tahu.

Seseorang menjelaskan bahwa Thread punya kemiripan dengan Twitter yakni bisa postingan bersambung.

Setelah menyimak seluruh percakapan di group itu, saya langsung tanya om gugel untuk memuaskan rasa penasaran di benak.

Dalam sekejap, om gugel langsung menampilkan beragam berita tentang Threads. Ternyata Threads diluncurkan hari Rabu, sehari sebelum booming di Indonesia.

Melansir dari The New York Times, Threads diluncurkan Mark Zuckerberg sebagai pendamping Instagram.

Threads adalah aplikasi untuk melakukan percakapan publik secara real-time satu sama lain.

Idenya adalah untuk membangun ruang yang terbuka dan ramah bagi komunitas [1].

Sebenarnya, sejak pagi, Threads telah berseliweran di story IG. Saya hanya melewatkan. Tidak menggubris sama sekali.

Saya memutuskan untuk mendownload di Play Store setelah menyimak diskusi di group WhatsApp dan membaca referensi di om gugel.

Awalnya juga sempat ragu karena ini masih baru. Belum tahu apa kelebihan dan kekurangannya. Tapi rasa penasaran lebih besar dari keraguan. Hehe. Toh yang menggunakannya sudah sangat banyak.

Setelah mendownload, saya mendaftar. Ternyata tidak ribet dalam proses pendaftaran. Cukup dengan mencocokkannya dengan akun Instagram.

Saat masuk, sejumlah pemberitahuan langsung muncul. Saya baru saja mendaftar, tapi permintaan konfirmasi udah banyak. Haha sebenarnya tidak banyak amat sih. Hanya belasan. Wkwkw.

Saya bingung, kok langsung ada seperti ini. Ternyata saat mendaftar ada saran untuk mengikuti teman Instagram yang tergabung di Threads.

Setelah mengonfirmasi semua pemberitahuan dan mengikuti balik, mulailah saya menjelajah. Mencoba seluruh fitur yang ada.

Ada lima fitur di bagian bawah. Beranda, pencarian, utas baru, aktivitas, dan juga profil.

Sementara di bagian atas ada logo web, Instagram, dan menu pengaturan.

Threads punya kemiripan dengan Twitter. Bisa menulis status, juga upload foto dan video.

Ada juga tombol menyukai, mengunggah ulang, atau mengutip Threads. Juga penghitung jumlah like dan balasan yang diterima unggahan. 

Namun beberapa perbedaan juga terdapat pada keduanya. Unggahan Threads dibatasi maksimal hingga 500 karakter. Sementara Twitter hanya 280 karakter. Kemudian di Threads tidak bisa mengirim pesan langsung.

Threads jadi penantang baru Twitter

Threads
Perbandingan Threads dengan Twitter (sumber: BBC.com [2])

Melansir dari kompas.id, Threads diluncurkan setelah Zuckerberg dan Musk bersitegang selama berbulan-bulan.

Keputusan Musk yang kacau selama berbulan-bulan sudah mengguncang Twitter. Mungkin inilah kesempatan Zuckerberg untuk mencuri perhatian pengguna Twitter.

Sebelumnya Musk membeli Twitter seharga 44 miliar dollar AS pada Oktober lalu. Tetapi nilainya anjlok karena menghadapi eksodus pengiklan di tengah pemotongan staf dan kontroversi moderasi konten. 

Sementara, Meta -untuk tahap awal- kemungkinan akan fokus pada pertumbuhan pengguna sebelum menggabungkan iklan di Threads. 

Untuk membangun Threads, Meta sudah menawarkan para influencer media sosial untuk masuk ke Threads dan meminta mereka mengunggah Threads setidaknya dua kali sehari [3].

Untuk saat ini, menurut saya, Twitter masih unggul. Setidaknya ada tiga pilihan yang dimiliki Twitter dan tidak ada pada Threads.

Pertama kita bisa melihat trending topik di Twitter. Di sinilah kita bisa melihat perkembangan isu yang terjadi.

Kemudian pesan langsung dan juga hastag tidak ada pada Threads. Saya rasa itulah beberapa kelebihan Twitter.

Kita tidak tahu bagaimana perkembangan Threads dan Twitter kedepannya. Kita tunggu saja.(*)

_____

Referensi:

[1] https://www.nytimes.com/2023/07/05/technology/threads-app-meta-twitter-killer.html

[2] https://www.bbc.com/news/technology-66112648.amp

[3] https://www.kompas.id/baca/internasional/2023/07/06/aplikasi-threads-pukulan-telak-zuckerberg-pada-musk

signature
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url