Mengenal Hujjatul Islam Imam Al Ghazali

Mengenal Hujjatul Islam Imam Al Ghazali

Sejak masuk sekolah di madrasah, nama Imam Al Ghazali sudah tidak asing di telinga saya. Namanya selalu muncul dalam buku pelajaran agama Islam.

SEJAK masuk sekolah di madrasah, nama Imam Al Ghazali sudah tidak asing di telinga saya. Namanya selalu muncul dalam buku pelajaran agama Islam.

Imam Al Ghazali dijuluki sebagai Hujjatul Islam karena berjasa dalam mempertahankan agama Islam. Ia begitu dipuja oleh sebagian kalangan. Namun ada juga yang tidak setuju dan mengkritik mazhab Imam Al Ghazali.

Di Indonesia, saya rasa hampir semua umat yang beragama Islam termasuk golongan yang memuji Al Ghazali. Meski tidak semua, karena ada sebagian yang berbeda aliran.

Aliran mayoritas di Indonesia adalah Sunni. Aliran ini sejalan dengan pemikiran Imam Al Ghazali yang menganut Mazhab Syafi'i.

Sehingga, tidak heran, banyak orangtua memberi nama pada anaknya Al Ghazali. Salah satu yang terkenal adalah anak Ahmad Dhani.

Saya juga punya sepupu bernama Al Ghazali. Ia tinggal di tengah masyarakat non muslim yang tidak mengenal siapa sebenarnya Al Ghazali. Sehingga, suatu ketika, ada yang bertanya kepada tante saya yang memberi nama anaknya Al Ghazali.

"Kamu idolanya Al Ghazali anaknya Ahmad Dhani yah?" begitulah kira-kira pertanyaan orang yang tidak mengenal siapa sebenarnya Imam Al Ghazali yang Ahmad Dhani pun memberi anaknya dengan nama itu.

Selain mengidolakan Imam Al Ghazali, dengan memberi nama itu adalah doa. Berharap, sang anak bisa mengikuti jejak Imam Al Ghazali. Seorang sarjana, teolog, filosof, juga cendekiawan.

Siapa sih sebenarnya Imam Al Ghazali?

Meski sudah mendengar namanya sejak sekolah di madrasah, tapi saya belum mengenal dengan baik siapa beliau. Bahkan sampai sekarang saya belum benar-benar memahami pemikirannya.

Setelah kuliah atau lebih tepatnya setelah menyandang gelar sarjana, barulah saya mulai membaca karyanya yang masih tersisa dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Salah satu karyanya yang paling monumental adalah Ihya Ulumuddin. Semoga suatu saat bisa saya tuliskan resensi atau rangkuman beserta refleksinya bab per bab di blog ini.

Imam Al Ghazali adalah seorang tokoh yang berpengaruh dalam dunia Islam. Seorang sarjana, teolog, filosof, dan cendekiawan muslim yang hidup pada abad ke-11 hingga abad ke-12 Masehi.

Nama lengkapnya Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali. Ia punya saudara namanya Ahmad.

Mengutip pada lembaran awal kitab Ihya Ulumuddin, Al Ghazali lahir pada 450 H (1058 M) di Desa Taberan, Distrik Thus, Persia. Kota itu sekarang berada di wilayah Iran.

Ayahnya meninggal saat Ghazali masih kecil. Sebelum meninggal, ayahnya menitipkan Ghazali kepada temannya yang seorang sufi. Dari sang sufi tersebut terbentuk jiwa sufistik Imam Al Ghazali bersama adiknya, Ahmad.

Oleh sang sufi itu, Al Ghazali dan Ahmad dikirim ke maktab swasta untuk menempuh pendidikan dasar. Sejak kecil, mereka berdua telah memiliki kecerdasan yang sangat baik. Mereka mampu menghafal Alquran dalam waktu singkat.

Setelah beberapa waktu, Al Ghazali meninggalkan desa kelahiran dan menempuh pendidikan tinggi di Jurjan. Ia belajar di bawah bimbingan seorang ulama besar, Imam Abu Nashr Ismail.

Kemudian dia masuk madrasah Nizhamiyah di Nisabur yang waktu itu adalah pusat pendidikan terpandang. 

Saat berusia 28 tahun, ia pergi ke Baghdad, ibukota kekhalifahan. Di Baghdad, Al Ghazali diangkat menjadi Rektor Madrasah Nizhamiyah oleh Nizham al-Mulk, Wazir kepala sang penguasa Turki Malik Syah.

Diangkat pada usia muda untuk jabatan yang begitu tinggi. Banyak penguasa dan kepala suku datang kepada Imam Al Ghazali untuk mendapatkan fatwa dalam perkara teologi dan soal negara.

Ratusan Ulama, pejabat kekhalifahan dan bangsawan yang berkuasa menghadiri perkuliahan umum Al Ghazali yang disampaikan dengan penuh pemikiran, argumen, dan alasan.

Dia adalah pengikut Imam Syafi'i dalam usia mudanya, tetapi di Baghdad dia bergaul dengan banyak orang dari berbagai Mazhab fikih, pemilitan, dan gagasan.

Oleh gagasan tersebut ia meninggalkan kedudukan terpandangnya di Baghdad, mengenakan pakaian sufi dan menyelinap meninggalkan Baghdad di suatu malam pada tahun 488 Hijriah.

Ia pergi ke Damaskus lalu mengasingkan diri dalam sebuah kamar masjid. Dengan penuh kesungguhan melakukan ibadah, tafakur dan dzikir. Di sini ia menghabiskan waktu selama 2 tahun dalam kesendirian dan kesunyian.

Setelah dua tahun, dia pergi ke Yerusalem dan berziarah ke tempat kelahiran Nabi Isa AS. Pada tahun 499 Hijriah ia berziarah ke tempat Suci Nabi Ibrahim AS.

Selanjutnya dia pergi ke Mekkah untuk naik Haji disamping berziarah ke Madinah dan tinggal di kota nabi ini cukup lama.

Ketika pulang ia diminta oleh penguasa untuk menerima kedudukan sebagai Rektor Madrasah Nizhamiyah, dan ia menerima.

Sewaktu penguasa itu dibunuh Al Ghazali melepaskan jabatan tersebut lalu pergi ke Thus lalu mengecilkan diri di sebuah khanqah. 

Penguasa yang baru menawarkan kepada Imam Al Ghazali agar bersedia menduduki kembali jabatan Rektor namun ia menolaknya.

Dia wafat di desa asalnya, Taberan, ada 14 Jumadil akhir 505 Hijriah bertepatan dengan tanggal 19 Desember 1111 Masehi.

Karya Imam Al Ghazali

Imam Al Ghazali hidup hampir 55 tahun dan sudah mulai menulis buku sejak usia 20 tahun. Ia melakukan perjalanan selama 10 hingga 11 tahun. Ia menghabiskan waktunya untuk membaca, menulis, dan mengajar. 

Buku yang ditulis oleh Imam Al Ghazali hampir 400 judul.

Dari 400 yang sudah ditulis oleh Imam Al Ghazali hanya sebagian yang tersimpan di beberapa perpustakaan Eropa. 

Sementara kaum muslim tidak memilikinya sebagaimana mestinya. Selain itu orang Mongol telah bertindak secara barbar dengan membakar buku-bukunya hingga lenyap selama-lamanya.

Ihya Ulumiddin atau Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu agama adalah adikarya Imam al-Ghazali. 

Syaikh Abu Muhammad berkata "jika semua cahaya ilmu di dunia ini lenyap, mereka dapat dinyalakan kembali oleh Ihya. 

Banyak ahli hikmah dan orang bijak menganggap kitab ini merupakan hasil dari Ilham atau inspirasi.

Semoga, di lain waktu karya itu bisa saya refleksikan dan tuliskan di blog ini.(*)

Al Ghazali (Sumber: Google)
Al Ghazali (Sumber: Google)
signature

Bagikan Artikel Ini

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url