![]() |
| Menyambut Murid di Gerbang Sekolah. |
TADI pagi saya dengan Novi bersama beberapa guru salah satu SMK negeri di Kota Makassar bertugas sebagai piket di depan pintu gerbang. Tugas kami adalah menyambut murid di gerbang sebelum masuk ke kelas untuk belajar. Satu persatu murid menyalami kami, menyapa dengan senyum ramah.
Sebagian murid datang dengan tertib. Potongan rambut yang sudah rapi dan kaki baju disisipkan ke dalam celana. Ada mengenakan pakaian putih abu-abu, batik, dan ada juga memakai baju praktek sesuai jurusan masing-masing.
Namun, ada juga yang datang dengan pakaian yang belum dirapikan. Memakai jaket dan kaki baju di luar celana. Sebelum masuk ke lingkungan sekolah, guru terlebih dulu menertibkan mereka. Jaket dilepas, kaki baju disisipkan dalam celana, dan sepeda motor didorong ke parkiran.
Sekira pukul 07.45, pintu gerbang sudah mulai ditutup setengah. Sebelumnya terbuka lebar. Tersisa satu dua murid yang datang terlambat.
Berselang beberapa waktu, tetiba seorang ibu paruh baya masuk dari pintu gerbang. Ia tampak terburu-buru. Menyapa kami yang sementara piket dan meminta izin untuk masuk menemui anaknya. Ternyata dia adalah orangtua salah seorang murid di sekolah itu.
Ibu itu tidak diperbolehkan masuk. Guru yang sedang piket terlebih dulu menanyakan siapa nama anaknya dan apa keperluannya.
Awalnya ibu itu hanya mengatakan ingin bertemu anaknya. Ingin melihat gawai yang digunakan anaknya. Tetapi guru tidak mengizinkan ibu itu masuk ke lingkup sekolah. Alasannya karena murid sementara ujian. Dikhawatirkan bisa mengganggu ujian yang sedang atau akan dilaksanakan.
Ibu itu memahami penjelasan guru di sekolah. "Kalau begitu saya tunggumi saja sampai selesai anakku ujian pak," kata ibu itu.
"Lama ujiannya ini Bu, sampai jam 10 baru istirahat. Lamaki menunggu itu di sini. Mending pulang meki saja dulu, sebentar baru balik lagi ke sini," kata seorang guru.
Tapi ibu itu tidak mau pulang. Ia lebih memilih menunggu meskipun lama.
Guru mencoba mencari tahu alasan ibu itu mengapa sampai rela ingin menunggu lama. Jangan sampai ada masalah dengan anaknya yang bisa mengganggu konsentrasi murid itu ujian.
Setelah lama berdialog, akhirnya ibu itu menceritakan alasannya. Alasannya itu membuat saya tergerak untuk menulis catatan ini karena menyangkut masalah dalam dunia pendidikan.
Ibu itu bercerita kalau dia bekerja di sebuah warung sebagai karyawan (saya tidak terlalu ingat jelas apakah warung atau toko). Ia sempat ke warung bosnya, tapi masih tutup. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan bosnya. HP ibu itu digunakan anaknya di sekolah untuk ujian. Karena ujian di sekolah sudah tidak lagi menulis di kertas. Semua berbasis daring. Harus menggunakan gawai.
"Saya cuma mau lihat di HP itu bilang ada chatnya bosku atau tidak. Saya juga mau tanya, karena saya dari di warung tapi masih tertutup," kurang lebih seperti itu ia menjelaskan.
Sebenarnya saya tidak berhadapan langsung dengan ibu itu. Saya juga tidak berkomunikasi langsung. Saya hanya melihat dan mendengar dia berdialog dengan guru di sekolah.
Setelah mendengar cerita ibu itu, salah seorang guru langsung bergegas ke kelas mencari anaknya. Ibu itu dipersilakan duduk di kursi yang disediakan. Sambil menunggu, seorang guru perempuan juga mengajaknya ngobrol.
Saya bersama Novi juga bubar dari piket lalu masuk ke dalam sekolah, ke bengkel Otomotif. Saya tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan ibu itu di luar.
Ternyata di perkotaan, bahkan kota paling maju di Indonesia Timur, masih ada permasalahan dalam pemerataan teknologi. Meski gawai sudah menjadi kebutuhan primer di era saat ini, tapi masih ada masyarakat yang belum bisa menikmati dengan baik.
Ketika dalam sistem pendidikan sudah mewajibkan murid ujian secara daring menggunakan android, ada orangtua yang masih berjuang. Rela meminjamkan gawainya yang digunakan demi ujian anaknya di sekolah.
Mungkin ini konteksnya orangtua yang memiliki satu anak. Bagaimana dengan orangtua yang memiliki dua anak ingin ujian sementara gawainya hanya satu.
Atau bagaimana jika dalam keluarga itu sama sekali tidak memiliki gawai? Mungkin menahan rasa malu meminjam gawai orang lain, atau meminjam uang ke tetangga untuk membeli gawai agar anaknya bisa ujian. Setelah itu lulus dan kelak menjadi orang sukses.
Setelah ada gawai, harus lagi membeli kuota. Yang untuk sebagian besar orang menganggap ini biasa. Bahkan ada orang yang memiliki 2 hingga 3 gawai. Tapi ada juga dalam satu keluarga hanya punya satu gawai.
Masalah seperti ini kadang luput dari pandangan kita. Sebelum mendengar cerita ibu tadi pagi, saya mengira semua murid di perkotaan memiliki seluler cerdas. Ternyata tidak. Masih ada yang harus membawa gawai orangtuanya demi ujian.
Lalu bagaimana dengan orangtua yang bekerja dan butuh berkomunikasi dengan bosnya?
Sepertinya hal seperti ini jauh lebih penting daripada pengadaan motor listrik untuk Kepala SPPG yang harganya 42 jutaan rupiah itu. Belum dikalikan 25 ribu motor listrik. Alangkah lebih baik jika pemerintah mengadakan seluler cerdas yang bisa digunakan khusus untuk ujian. Hal ini jauh lebih penting. Kalau belum bisa menyiapkan untuk semua murid, minimal ada yang bisa disediakan di sekolah untuk murid yang kurang mampu.
Sehingga murid yang kesulitan ekonomi dan tidak punya gawai pribadi, masalahnya bisa teratasi. Murid bisa mengikuti ujian dengan baik tanpa harus membawa gawai orangtuanya. Begitupun orangtua murid bisa bekerja dan berkomunikasi ke bosnya di tempat kerja dengan baik.(*)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar di bawah ini dan bagikan pendapat Anda tentang artikel di atas.