SETELAH menyandang gelar sarjana psikologi, gadis itu bingung mau kerja apa. Di kampung, dia hanya ngebolang ke warung-warung kopi. Ijazah S1 seperti tak berarti apa-apa untuk melamar pekerjaan.
Mungkin sudah bosan di kampung mondar kesana kemari, dia mulai cari pekerjaan di Kota Makassar. Kerja apa saja yang penting halal. Akhirnya ketemu teman lama, seorang pengusaha apparel sukses yang butuh karyawan. Tanpa basa-basi, dara Takalar itu diterima bekerja.
Sepertinya dia diterima kerja tanpa syarat berbelit-belit. Ijazah tidak linear. Pengalaman kerja, kayaknya belum sesuai. Skill administrasi, masih minim. Mungkin syaratnya diterima hanya karena teman lama yang mau bekerja. Sama sedikit kasihan. Haha.
Di awal-awal bekerja, karyawan baru itu tampak kebingungan. Bekerja dipandu sama bosnya. Mulai cara menyambut konsumen, mengelola administrasi, sampai cara berkomunikasi dengan pelanggan. Dia seperti bukan bekerja. Tapi diajar bekerja. Hahaha.
Soal skill administrasi, memang gadis itu masih kurang. Tapi dia tipe orang yang mau belajar. Penurut. Tidak suka membantah. Cenderung menghindari konflik. Juga rajin. Mungkin karena sifat itu, bosnya merasa nyaman. Ehh.
Kadang kalau saya ke tokonya pagi-pagi, dia sudah mengepel lantai, merapikan barang-barang di lobi, dan selalu tampak bahagia menyambut konsumen. Dia bekerja bukan sekadar sebagai admin, tapi melebihi dari itu. Semua dia pelajari. Apa saja yang diperintahkan bosnya dia kerja. Meski sering mengeluh dalam hati. Begitulah dunia kerja bekerja. Kadang menuntut kita keluar dari zona nyaman.
Selain itu, dia tipikal gadis yang positive vibes. Selalu tersenyum dan tertawa. Seakan hidupnya bahagia terus. Bahkan saat bercerita pengalamannya yang sedih, dia tetap tertawa. Menertawakan nasibnya yang tidak seberuntung teman sebayanya.
Belum cukup setahun. Mungkin baru satu semester, dia mulai bosan. Minta resign. Berkali-kali, kata resign selalu diungkapkan. Disampaikan ke bosnya, atau ke teman-temannya yang datang ke toko itu.
"Mauka ke Morowali cari kerja," katanya menjelaskan alasannya minta resign. "Ada adekku di sana," dia menambahkan.
Berhari-hari, berminggu-minggu, kata resign itu terus keluar dari bibir manisnya. Entahlah manis atau tidak. Hanya bosnya yang akan tau rasanya. Upsss.
Bosnya orang baik. Dia persilakan karyawannya resign. Tapi ada syaratnya: harus ada penggantinya di bagian administrasi.
Mulailah gadis itu mempromosikan perekrutan posisi admin di toko bosnya. Setelah banyak yang daftar, dia wawancara satu persatu.
Haha pekerjaannya bukan hanya admin. Tapi merangkap jadi HRD: merekrut karyawan baru yang sesuai dengan job desk pekerjaannya.
Ketika awal masuk kerja, masih seperti gelas kosong. Kini gelas itu hampir penuh. Berbagai job desk di Celebes Apparel sudah mulai dia kuasai. Kecuali bagian produksi dan desain. Saya tidak pernah lihat dia melakukannya.
Mungkin itu juga alasan banyak perusahaan lebih memilih menerima karyawan yang seperti gelas kosong tapi minat belajarnya tinggi ketimbang gelas yang hampir penuh tapi susah diatur.
Setelah ada karyawan baru, gadis itu resign. Yah, hanya diucapan saja yang resign. Saya tidak tau apakah gajinya juga resign. Tapi yang jelas, dia masih stay di toko itu. Sampai sekarang. Sampai dia mempublikasikan acara lamarannya di media sosial: yang melamar adalah bosnya.
"Trikji itu selalu mau resign," celetukannya sambil tertawa.
Dulu dia hanya teman biasa -- seorang karyawan yang digaji perbulan sama bosnya, kini sudah jadi ibu negara. Sudah bisa menguasai keuangan bosnya yang nilainya sampai 3 digit.
"Tetap dia yang pegang uang perusahaan. Saya mau jadi ibu rumah tangga saja," katanya membalas saat saya bilang akan jadi ibu negara yang mengatur gaji karyawan Celebes Apparel.
Gadis itu adalah Rika Rukmana Rahmat (29). Asli Takalar yang kuliah Psikologi di UNM. Sementara bosnya adalah Masturi (29). Dia orang Tapalang, Mamuju --sekitar 400 km dari Kota Makassar. Dia satu jurusan dengan saya di kampus: Pendidikan Teknik Otomotif. Kami satu kelas.
![]() |
| DJMTD 2016 (Wahyudin, Hilman, Masturi, Rika Rukmana Rahmat, Abil Arqam, Faisal Fajar) |
Kami sama-sama masuk UNM. Kemudian sama-sama masuk UKM di LPM Profesi UNM.
Banyak cerita pengalaman saya dengan dia. Suka duka di kampus. Hampir tiga tahun selalu sama-sama. Siang malam. Tinggal di redaksi LPM Profesi. Pergi kuliah sama, pergi liputan sama-sama, begadang di redaksi, sampai pergi pelatihan di Padang sama-sama.
Kami punya cerita lucu di Padang. Di akhir pelatihan, kami berencana pergi jalan-jalan di tempat wisata yang ada di Sumatera Barat. Ada 10 orang. Dari Makassar 6, Palembang 2, Medan 1, dan Padang 1.
Karena tidak ada kendaraan, Maka kami patungan untuk rental mobil.
"Ada yang bisa bawa mobil?," kata seseorang diantara kami.
"Bang Wahyu sama Bang Masturi bisa bawa mobil?," kata teman lain bertanya.
"Kalau perbaiki mobil bisa, tapi kalau mengemudi, belum," haha kami tertawa sekaligus malu.
Bagaimana tidak, jurusan saya dengan Masturi di kampus adalah otomotif. Jurusan yang mempelajari tentang bagaimana memperbaiki dan merawat kendaraan, baik itu mobil ataupun motor. Tapi kami berdua tidak ada yang bisa bawa mobil. Haha.
"Kami bisa," kata Fathur dengan Said. Mereka adalah mahasiswa Unhas. Fathur Jurusan Hukum, sementara Said Matematika.
"Kalau begitu mari kita berangkat. Nanti kalau rusak di jalan, ada bang Wahyu sama Bang Masturi yang bisa perbaiki," kata seorang teman.
Yah, Jurusan Masturi memang otomotif. Sejak di bangku SMK. Sama seperti saya.
![]() |
| Radiator 2015 (Surahman, Masturi, Rika Rukmana Rahmat, Wahyudin) |
Tapi di kampus, dia banting steer. Awalnya terjun ke dunia jurnalistik. Dia sangat lihai mendesain. Desain apa saja. Semua aplikasi desain dia kuasai.
Pun dengan fotografi dan videografi. Webmaster. Membuat website juga begitu. Dia paham dengan baik. Di LPM Profesi, hanya satu kekurangannya: menulis berita.
Kekurangannya itu malah jadi kelebihan saya. Kadang ketika liputan, saya menulis melebihi target. Lebihnya itu saya upload atas namanya Masturi. Kami saling membantu.
Selama 3 tahun saya sama-sama dan belajar desain, saya masih buntu. Sulit sekali memadukan warna yang cocok dalam sebuah desain.
Di LPM Profesi, Masturi tidak bertahan sampai selesai. Terakhir dia menjabat sebagai Manager Broadcasting. Dia termasuk salah seorang pengelola yang turut andil mencetuskan dan mengembangkan Profesi TV waktu itu.
![]() |
| Pengelola dan magang LPM Profesi UNM pada masanya (Resa Saputra, Ratna, Masturi, Rika Rukmana Rahmat, Wahyudin, Faisal Fajar) |
Setelah tidak lagi ber-Profesi, Masturi mulai membangun usaha. Awalnya usaha stiker dan gantungan kunci. Usaha dikerja di kos-kosan.
Usaha itu tidak berkembang, dia banting steer lagi ke Sablon Kaos. Usaha itulah yang berkembang sampai sekarang. Semula bernama Malaqbi, sekarang bertransformasi menjadi Celebes Apparel.
"Kuganti namanya karena banyak teman sama pelanggan dari Jawa bengkok-bengkok lidahnya kalau bilang Malaqbi. Sulit dia ingat," katanya ketika saya tanya kenapa ganti nama.
Sejak fokus pada usaha itu, dia sudah jarang pulang kampung. Bahkan setelah lulus, dia tetap fokus usaha di Makassar.
Katanya kampungnya sangat terpencil. Sulit membangun usaha di sana. Apalagi seperti apparel yang digelutinya sekarang. Palingan, kata dia, hanya kerja di kebun kalau pulang kampung.
Sehingga dia tetap memilih tinggal di Makassar. Di kota tersibuk di Indonesia Timur ini, dia membangun jaringan. Pelanggannya tidak hanya sebatas di Kota Daeng. Tapi hampir seluruh kabupaten kota di Sulsel. Bahkan pelanggannya sampai ke luar provinsi.
Setiap ke Makassar, jika tidak buru-buru, saya selalu menyempatkan berkunjung ke tokonya sekaligus tempat dia tinggal. Berkunjung sekadar melihat usahanya yang berkembang pesat, menambah motivasi saya dalam berwirausaha.
Saya banyak belajar tentang wirausaha dari Masturi. Saat mulai merintis usaha di kampung, saya juga banyak sharing dan konsultasi. Dia cukup banyak membantu. Termasuk desain spanduk usaha yang saya rintis saat ini.
Berhari-hari saya mendesain spanduk. Tapi hasilnya tetap jelek. Setelah saya perlihatkan, dia edit ulang. Hampir semua pola dia ubah. Tidak cukup 5 menit, jadi.
Yah, hari ini Turi dan Oi' --sapaan akrab mereka-- resmi menikah di Masjid Agung Takalar. Kemudian lanjut resepsi di gedung Islamic Center Takalar.
Turut bahagia bisa hadir di pesta pernikahannya. Mereka berdua adalah teman baik saya di Makassar. Sebagai teman yang baik, saya mendoakan yang terbaik. Semoga jadi pasangan Sakinah Mawadah Warahmah. Aamiin.(*)






Mantap
BalasHapus