SUASANA masih pagi buta, Mallarangan sudah bergegas meninggalkan rumahnya. Matahari belum beranjak dari peraduan, suasana di kampungnya masih senyap. Ia menuju ke pelelangan ikan Beba di Takalar. Berdesakan dengan emak-emak mencari ikan segar. Rela tawar menawar demi dapat ikan yang banyak dengan harga murah.
Setelah dapat ikan sekantong besar --perkiraan sekitar 50-an ekor--, ia langsung tancap gas ke rumah saya di kaki Bulu Saukang: sekitar 55 kilometer ke arah selatan. Perjalanan ia tempuh sekira 2 jam. Melewati Kota Makassar, sebagian Kabupaten Gowa, dan Maros.
Di rumah, ibu sudah menggoreng singkong --kami sebut ubi kayu-- yang dikukus terlebih dulu sejak pagi dini. Ini jadi sarapan saya, campur dengan rebusan telur dan megah mie (mie yang paling banyak iklannya di instagram Tumming Abu). Jadilah sarapan saya soup ubi kayu yang isinya hanya indomie telur campur singkong goreng.
Saya hanya makan sedikit singkong. Di wadahnya masih banyak. Itulah yang saya hidangkan ke Aan --sapaan akrab Mallarangan-- saat tiba.
Kami membuat acara kecil-kecilan di rumah saya bersama anak-anak kelas Vokasi PPG UNM. Bakar-bakar ikan, masak-masak sayur bening (labu, daun kelor, bayam), goreng singkong dan pisang, hingga nanjak ke Bulu Saukang. Jarak rumah saya ke pos registrasi hanya berkisar 500 meter. Gunungnya juga tidak terlalu tinggi. Hanya 330 meter di atas permukaan laut. Sangat cocok untuk pendaki pemula.
Berselang beberapa saat setelah Aan datang, Ricky juga tiba menggunakan motor Mio Sporty sepupunya yang mau diservis. Kebetulan saya punya bengkel rumahan dengan jenama Saukang Teknik. Driver lintas provinsi itu mencuri kesempatan servis motor sepupunya yang ia gunakan.
Berhubung dia anak otomotif, saya cuma berikan kunci-kunci yang ingin digunakan. Lalu dia bongkar sendiri sepeda motornya. Dia ganti kampas ganda yang sudah aus. Saya, Aan, dan Ricky adalah anak otomotif. Jadi soal bongkar pasang bagian kendaraan bukan hal sulit.
Kelompok rombongan selanjutnya tiba sekira pukul 9. Mereka adalah geng anak broadcasting dan perfilman. Campur anak kuliner dan otomotif.
Di group WhatsApp, Nasriani memberi kabar. "Saya sementara belanja sayur di pasar. Masakmi nasi sama bakar ikan." ketusnya.
Kebetulan di rumah ada labu. Itulah yang dikerjakan Amel, Nungki, Wanda. Saya sama Rifa pergi ambil daun kelor di depan rumah sepupu. Ricky, Aan, sama Anis bakar ikan.
Tidak lama, gerombolan "chef" datang membawa bahan makanan. Berbagai macam. Saya sebagai anak otomotif tidak tahu nama apa saja yang mereka bawa.
Waktunya mengeksekusi.
Peralatan memasak saya keluarkan ke teras. Supaya dekat jika para calon guru koki ini mau magosip dengan pria-pria bujang yang bakar ikan.
Urusan bakar ikan dieksekusi anak Otomotif. Soal masak memasak dieksekusi anak kuliner dibantu anak broadcasting. Sungguh, sangat seru kelas Vokasi ini. Isinya beragam. Saling melengkapi kalau bikin acara. Apalagi acara makan-makan. Haha.
Waktu tak terasa, suara adzan begitu cepat terdengar di Masjid. Aktivitas sejenak terjeda. Yang muslim melaksanakan kewajiban. Yang berhalangan tetap lanjut menyelesaikan masakannya.
Waktunya makan siang. Sayur bening, ikan bakar, tempe goreng, sambal, peco-peco, mappassipa. Kalau kata content creator Makassar: Massapodda gaezz.
Kalau anak kuliner yang masak, rasanya memang beda. Saya sulit menggambarkan rasa yang bercampur pada makanan.
Sebelum santap menyantap, tak ketinggalan sesi foto dulu. "Ini yang penting," celetuk seorang diantara kami.
"Ayo makan yang banyak anak-anak. Ini makanan sehat," kata Nasriani.
Ibu dua anak itu menjelaskan sekilas tentang gizi yang terdapat pada makanan hasil olahannya. Makanan yang sangat jarang dinikmati anak indekos di Kota Makassar.
"Banyak-banyak makan ikan supaya sehat," ia menambahkan.
Kami seperti orang yang "rakus" makan ikan. Satu orang makan 3 hingga 5 ekor. Tapi ada seorang yang lain. Sebut saja namanya Wanda. Dia lebih memilih makan tempe goreng.
"Masa tidak makanko ikan Wanda?," kata Rahma yang makan ikan sepiring dengannya.
"Bah kumkanji kak," ia membalas sambil mencubit sedikit pada punggung ikan. "Takutka natusuk tulangnya," katanya.
Ternyata bukan alergi. Wanda cuma tidak mau tangannya terluka hanya karena makan ikan.
Menjelang santap siang berakhir, Irsyad sang chef, idola para siswi Boga SMKN 6 Makassar datang. Dia membawa dessert dua macam. Datang di waktu yang tepat.
"Apa itu? Garnish kah," kata Ricky bertanya dengan nada bercanda. Mana paham Ricky yang anak Otomotif apa itu garnish. Hanya karena saat diskusi di kelas, anak kuliner selalu menjelaskan tentang garnish, jadi spontan keluar dari bibirnya kata itu.
Setelah makan, sebagian gadis cuci piring. Ada yang mengepel. Laki-lakinya duduk santai di area bengkel Saukang Teknik. Minum sirup, coca cola, pisang goreng, sama ubi goreng, lalu bercerita panjang tentang masa depan yang belum pasti.
Kali ini kelebihan makanan. Kekenyangan. Hanya dessert yang dibawa Irsyad ludes. Pisang dan ubi goreng hanya parkir di tengah-tengah parkiran motor.
Matahari sangat terik di tengah hari. Langit membiru. Awan putih bergerak pelan di cakrawala. Sepertinya cuaca mendukung untuk nanjak ke puncak Bulu Saukang.
"Sorepi baru ke puncak. Bagus sunset kalau magrib," kata Aan yang mengaku sebagai anak gunung. Hampir tiap pekan dia menjelajahi gunung yang ada di Sulsel.
"Kalau dalam satu minggu saya tidak nanjak, biasa langsung flu, bersin-bersin ka," katanya suatu ketika.
Sambil menunggu waktu berlalu, kami bersenda gurau di beranda rumah. Ada kelompok main uno, ada main joker, ada tidur, ada juga yang tetap sibuk dengan laptopnya. Entah sepenting apa tugasnya, biar di lokasi liburan tetap kerja tugas. Mungkin dia ingin dapat nilai di atas sempurna.
Kami berangkat ba'da Ashar. Biasanya, waktu tempuh dari pos registrasi sampai ke puncak Saukang hanya berkisar 30 hingga 60 menit. Kami berenambelas. Lima bujang, sepuluh gadis, dan satu emak-emak.
Sebelum nanjak, terlebih dulu daftar di pos registrasi. Bukan hanya daftar, tapi bayar karcis dan parkir. Lima ribu karcis, dua ribu parkir. Total Rp 7000 perorang.
"Hitung 15 orang saja, janganmi Wahyudin," kata Awal yang sedang jaga di pos registrasi. Dia adalah teman saya. Dia mengenal saya. Iyalah, kami satu kampung. Akamsi punya privilege di Bulu Saukang. Jadi bagi gadis-gadis kalau mau bebas nanjak ke puncak Saukang secara gratis kapan saja, menikahlah dengan akamsi. Upssss..
Setelah semua registrasi beres, kami bergegas meninggalkan pos yang dijaga dua orang itu. Sudah tidak sabar ingin berjumpa sunset dan berswafoto di puncak Saukang.
Sayang sekali harapan tidak sesuai realita. Hujan deras tetiba mengguyur. Bulir air begitu banyak menerpa. Untung ada bale-bale agak luas. Kami berenam belas berteduh di situ. Hujan makin deras. Makin lama. Awan hitam makin pekat di atas kepala. Tanda-tanda hujan akan turun hingga malam.
"Auuu tidak jadiki nanjak ini. Bisaji besok pagi kita nanjak pakai karcis ini," kata seorang teman. Jawabannya tidak ada yang tahu pasti.
Ada yang mulai ragu untuk menanjak. Sebagian besar diantara kami, ini adalah kali pertamanya mendaki. Penasaran, ragu, khawatir, bercampur aduk. Ada yang mulai frustasi nanjak. Apalagi saat melihat ada pendaki wanita yang digendong dari atas.
Sekira satu jam berteduh, hujan mulai reda. Senyum yang sebelumnya layu, mulai merekah. "Yeyyyy sudah reda hujan. Mari kita nanjak," kata seorang teman.
Diantara enam belas orang, ada satu yang kurang bersemangat. Ia ragu untuk menanjak. Apalagi setelah melihat ada wanita digendong dari atas.
"Jangan meka saya ikut deh. Nanti tidak bisa nanjak atau merepotkan," katanya dalam hati. Ia terpaksa pulang ke rumah saya menunggu.
Yang berangkat nanjak lima belas orang. Nasriani dan kawan-kawan memimpin rombongan di depan. Semuanya wanita. Meski tampilan ukhti-ukhti, menggunakan jilbab besar dan gamis, tapi gesit menapaki batu demi batu, menaiki tangga, hingga memanjat tebing batu besar dengan bantuan tali.
Mereka sangat cepat, sampai-sampai saya tidak pernah melihatnya dalam perjalanan. Nanti bertemu saat mendekati puncak.
Di tengah, ada rombongan otomotif dan broadcasting sebagian. Jika dilihat dari outfit, seolah sudah pendaki yang berpengalaman: mulai jilbab yang minimalis, baju, celana, hingga sepatu. Pokoknya lengkap. Tapi jiwa belum selaras dengan outfit. Beberapa diantaranya masih gemetar seluruh badan saat menaiki tangga atau saat memanjat batu yang besar.
Meski gemetar dan dihantui rasa takut, mereka semua berhasil melawannya. Sedikit demi sedikit, secara perlahan memanjat batu demi batu. Hingga akhirnya sampai di tugu Bulu Saukang.
Lega sekali rasanya. Seakan lelah dan rasa takut dalam perjalanan seketika hilang menyaksikan sepasang kekasih yang selalu bertemu hanya untuk berpisah: siang dan malam.
Sunset segera berlalu.
Pemandangan dari puncak sungguh menakjubkan. Panorama di ufuk barat, perpaduan gradasi kuning emas, oranye, merah membara, hingga ungu sangat memukau.
Terlihat jelas kerlap-kerlip Kota Makassar, Gowa, dan Maros. Lampu rumah dan bangunan menyala di tengah gelapnya malam. Sungguh indah ciptaan-Nya, sayang sekali kita sering lupa akan pencipta-Nya.
Setelah mengabadikan momen di puncak, kami bergegas pulang. Hari sudah mulai gelap. Angin mulai bertiup kencang. Siang telah meninggalkan malam. Menyisakan sinar candra, cahaya gawai, dan sorotan senter kepala para pendaki.
Meski hari sudah gelap, pendaki makin banyak. Di puncak masih bergantian antre untuk berfoto di tugu. Dari bawah makin ramai cahaya senter gawai dan headlamp. Pada bagian tertentu para pendaki harus antre. Bergantian antara pendaki yang naik dan turun untuk melewati satu jalur yang sempit.
"Ternyata macetnya seperti arus lalu lintas di Jl Hertasning kalau sore," kata teman-teman melalui story WhatsApp. Saya ikut membagikan ulang.
Dari atas puncak, saya masih kepikiran dengan teman rombongan yang di belakang: Nungki, Yani, Ricky, dan Irsyad.
Yah cuma kepikiran, tidak terlalu khawatir. Karena dua "putri mahkota" itu didampingi dua jebolan anak TEKNIK yang kuda-kudanya sudah terlatih di kampus.
Mereka berempat sudah melewati pos terakhir. Sedikit lagi sampai puncak. Sayang sekali kondisi sudah gelap. Pijakan batu tidak lagi terlihat jelas. Saya menemukan mereka sedang beristirahat. Bersenda gurau dengan kelompok pendaki lain yang semuanya cewek.
Ternyata perkenalan mereka tidak sebatas kata "hati-hati kak" atau "semangat kak". Tapi lebih dalam. Bahkan seorang gadis terdengar sangat manja memanggil Ricky dengan sebutan bapak guru. Haha. "Pelan-pelanki bapak guru," kata seorang gadis yang hanya suaranya terdengar di tengah kegelapan.
Mereka sama-sama istrahat. Saya bersama Anies dari puncak ikut gabung bersama mereka. Sepertinya Nungki dan Yani yang sangat effort dalam perjalanan. Kalau istilah anak PPG, butuh scaffolding. Hehe.
Rombongan ukhti-ukhti, gadis broadcasting dan kuliner sudah lebih dulu turun. Meski malam, tetap gesit. Penglihatan mereka tajam melihat pijakan yang tidak licin. Meski ada yang katanya jatuh tappeccor hingga tabbulinta. Mereka didampingi Aan, si calon guru idaman siswi-siswi SMK 3 Makassar. Aan juga jebolan anak TEKNIK yang kuda-kudanya sudah teruji. Apalagi sudah mengarungi puluhan gunung. Jadi bisa terbilang amanlah tujuh gadis dan seorang emak-emak yang bersama dia.
Terakhir saya, Anis, Ricky, dan Irsyad membersamai putri mahkota Sinjai dan gadis Gowa berdarah Jawa. Meski terbilang lambat, tapi semangatnya untuk pulang terbilang luar biasa. Dalam perjalanan keduanya dihantui rasa takut, gemetar, khawatir, hingga tidak berani melangkah di jalanan yang curam. Mereka pilih ngesot. Hehe.
Di tengah sulitnya perjalanan dan tantangan, mereka tetap mengingat materi growth mindset yang tiap hari Jumat dipelajari di kampus. Katanya, orang yang berpikir bertumbuh selalu melihat tantangan sebagai peluang. Tidak ada kata menyerah!
Yah kami berenam di belakang. Tapi hanya 3 HP yang digunakan sebagai senter. Anies memandu di depan. Mencari jalan yang bisa dilewati dua putri mahkota itu. Saya bersama Irsyad di belakangnya. Sementara Ricky mengurus diri sendiri di belakang. Sesekali dia melambung, ikut bersama kenalan barunya yang manja memanggilnya 'bapak guru'. Malah sebaliknya, rombongan gadis itu yang membantunya. "Di siniki lewat bapak guru," ucapnya sambil menyenter jalan untuk Ricky.
Sepertinya penerangan kami masih kurang. Beberapa hape sudah lowbat.
Dari belakang ada pendaki lain ikut 'menscaffolding'. Sepertinya dia sudah ekspert dan menguasai medan. Apalagi senter HP-nya cukup terang. Dia cukup membantu melintasi jalanan licin dari pos 4 ke pos 3. Sayang sekali HP-nya juga lowbat di tengah perjalanan. Jangankan membantu, dia sendiri kini juga butuh bantuan. Ketika ada pendaki lain menyusul dari belakang, pria itu jalan duluan.
Setelah pria itu pergi, kami sisa berenam. Saling membantu dalam perjalanan. Saling menguatkan. Saling memberi semangat.
Makin lama dua putri makin lemas. Berdiri jalan dikit jatuh lagi. Hingga beberapa saat, mereka hanya ngesot. Sudah bukan lagi kaki yang berpijak. Pantat yang nyerosot.
"Naik makkalolo, pulang maddumecu," kata Ani.
3 gawai dimaksimalkan. Anies di depan memegang HP. Menyenter jalan yang dijadikan pijakan. Sekitar dua meter ke depan, dia singgah menerangi jalan untuk Nungki. Sesekali Anis yang dikenal sebagai ustadznya Vokasi, terpaksa menarik Nungki. Memegang tangannya dan membantu menjaga keseimbangan putri Sinjai itu. Di sini imannya diuji. Haha.
Sama halnya dengan Irsyad. Si ekstrovert yang dengan sabar memandu Yani si introvert. Setiap Yani jatuh terperosot, tappeccor, Irsyad dengan sigap membangunkan. Sesekali menjadi pegangan kala dapat jalan licin.
Di keheningan malam, ia memutar musik melalui speakernya. Menyanyi sambil joget menghibur Yani dan Nungki yang semakin lelah jatuh bangun selama perjalanan.
Mendekati titik start, Aan datang menyusul. "Baruka mau pergi cari, adameki. Kenapa lama sekali," katanya yang sudah menunggu selama satu jam di pos registrasi.
Akhirnya tiba di bale-bale tempat bernaung sebelum nanjak. Kami berkumpul dan merayakan keberhasilan sama-sama. Sejenak berfoto bersama lalu kembali ke rumah saya.
Di rumah, beberapa orang ganti baju terlebih dulu karena penuh lumpur sudah ngesot di jalanan. Ada juga yang sekalian ganti oli motornya di rumah. Setelah semua beres, teman-teman saya pamit pulang sekitar jam 9 malam. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Ada di Moncongloe, Makassar, Gowa, dan paling jauh Takalar.
Demikian cerita keseruan kami mahasiswa kelas Vokasi UNM bakar-bakar ikan di Saukang Teknik dan nanjak ke puncak Bulu Saukang.(*)








Mantapp
BalasHapus