Bayar Pajak, Sejam DD Berganti

SAYA rakyat. Motorku Mio Ji. Saya bayar pajak.

Bapak saya, almarhum (semoga diterima di sisi-Nya) sangat rajin bayar pajak. Baik itu pajak tanah, rumah, hingga kendaraan sepeda motor sederhana.

Dia, dan kami sekeluarga hanya petani. Tidak punya kerabat jadi pejabat. Apalagi keluarga. 

Jelas tidak berani melawan hukum. Jangankan melawan, orang benar saja kadang dihukum apalagi kalau memang benar-benar salah. Kecuali punya beking. Atau keluarga pejabat.

Rabu lalu, kebetulan jadwal libur saya di kantor. Meski tetap ada penugasan. Tapi itu bisa saya kerjakan dari rumah.

Saya pulang ke rumah terlebih dulu. Ambil BPKB. Kemudian fotocopy. Lalu terus ke Samsat Maros.

Sekira pukul 11.00 Wita saya tiba. Langsung ke loket. Disambut dia wanita berhijab. Dengan ramah menyapa. Sambil tersenyum.

"Ada yang bisa saya bantu," katanya dari balik tembok yang hanya bisa menyapa melalui sedikit kaca.

Saya jelaskan maksud dan tujuan. Ingin bayar pajak. Sekaligus ganti plat kendaraan. Sudah mati sehari sebelumnya.

Wanita tadi meminta Rp 430 ribu. Kemudian diarahkan ke pengecekan nomor rangka dan mesin. 

Setelah seorang pria kepala empat mengecek nomor rangka dan mesin, saya kembali ke loket. Menyerahkan hasilnya.

Hujan lebat tiba-tiba turun. Mengguyur deras atap seng kantor Samsat itu. Untung saya pakai jaket. 

Selain itu, juga ada kantin. Menunya Indomie rebus. Kebetulan saya juga lapar. Waktunya makan siang. Pukul 11.50 Wita.

Karena derasnya hujan, saya tidak mendengar wanita di loket memanggil. Padahal jarak kantin, tempat saya duduk menunggu, tidak terlalu jauh.

Begitu pesanan Indomie rebus datang, wanita di loket juga menghampiri. STNK baru sudah ditangannya. Lalu memberinya padaku.

"Ini STNK baru. Silakan ambil platnya di loket sana," sambil menunjuk salah satu gedung. Juga ada loketnya.

Belum sempat mencicipi Indomie yang baru saja datang. Saya langsung menuju ke loket yang ditujukan. Di sana seorang bapak sudah mau menutup loket.

"Pak mau ambil pelat," kataku sambil memperlihatkan STNK baru motorku.

Hanya berselang tiga menit, bapak tersebut menutup loket. Kemudian keluar melalui pintu sambil membawa plat kendaraan. Warnanya putih.

"Bayarki Rp 10 ribu," kata bapak tersebut. Saya pun langsung mengoceh kantong tas. Dan memberinya selembar uang kertas.

Untung cepat saya bawa. Hampir saja penjaga loket itu istrahat makan siang dan salat.

Saya pun kembali ke kantin. Lalu makan. Harga semangkuk Rp 10 ribu. Lumayan bisa menjanggal lambung yang mulai keroncongan.(*)

signature
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url