Panca Dasa Siap Berkarya

Selalu girang setiap membaca pribadi kami dari sudut pandang senior yang cukup sarkas. Beginilah pengelola lembaga ini memperkenalkan anggota barunya.

Selalu girang setiap membaca pribadi kami dari sudut pandang senior yang cukup sarkas. Beginilah cara pengelola lembaga kuli tinta ini memperkenalkan anggota barunya kepada khalayak umum.


HAMPIR 8 bulan sudah mereka mengaktualisasikan diri ke Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM) ini. Mereka sah menjadi anggota baru setelah melewati ritual definitif ala LPM Profesi UNM, 1 April lalu.

Selama itu, dari 64 orang yang mengatakan ingin bergabung berguguran seiring berputarnya waktu. Hanya mereka yang bisa bertahan sejauh ini.

Mereka memang ditempa untuk dipersiapkan menjadi penerus lembaga. Mereka dituntut menjalani rutinitas yang lebih padat dari mahasiswa lainnya. 

Turun ke lapangan, mengerjakan tugas-tugas jurnalistik. Serta mengerjakan tugas di dapur redaksi yang menanti setiap hari.

Banyak hal yang terjadi pada mereka setelah bergabung di lembaga kuli tinta ini. Semoga dinamika yang mereka lalui selama ini bisa dijadikan pembelajaran.

Tanggung jawab besar menanti, sebab mereka adalah generasi selanjutnya yang siap berkarya di LPM Profesi UNM. Semangat!

1. Dewi Ulfah (Hobi Senyum Sendiri)

Anak ini selalu menebar senyum di mana-mana. Bahkan di waktu-waktu yang senyumnya tak dibutuhkan ia tetap tersenyum.

Pernah suatu hari, ia dimarahi pada saat rapat. Yang mengherankan, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra angkatan 2015 ini tetap menebar senyumnya dan mengatakan seperti tak ada sama sekali urat baper di wajahnya.

Selain kelebihannya yang selalu tersenyum itu, ia juga memiliki kelebihan lain. Diantaranya kelebihan bobot tubuh. Tak jarang gadis asli Jawa tapi tinggal di Sinjai ini jadi bulan-bulanan di redaksi. 

Untung saja, banyak gadis-gadis bertubuh lebar lain di redaksi, jadi ia tak merasa terbully sendiri. Ia hanya menanggapinya dengan senyuman dan berkata "Bukanji saya saja nah kak."

Dibalik segala 'kelebihan-kelebihannya' itu, Ulfah termasuk orang yang produktif dalam menulis berita. Jadi, tak jarang namanya masuk dalam jajaran magang yang memiliki berita terbanyak per minggu.

Ulfah juga termasuk orang yang ramah dan membangun relasi yang baik dengan teman-temannya. Serta tak lupa selalu menebar semangat positifnya dengan senyuman.

2. Faisal Fajar (Suka Baper)

Mahasiswa angkatan 2015 ini adalah makhluk paling baper diantara teman angkatannya. Di kampus ia lebih akrab dipanggil Ical, tapi di redaksi ia lebih suka dipanggil Ica.

Iya adalah anggota baru yang pertama kali menitikkan air matanya di redaksi. Bukan karena masalah perasaan, Ica selalu berkaca-kaca ketika ia merasa lalai dalam menjalankan tugasnya. Meski sering baper bukan berarti ia tidak profesional.

Mahasiswa asal Pangkep ini terkenal sebagai anggota yang rajin dan loyal terhadap lembaga.

Dengan segala tingkah ajaibnya, ia juga kerap menjadi sosok dewasa diantara teman-temannya. Menjadi tempat curhat bagi teman-teman angkatannya, bahkan bagi beberapa pengelola senior.

Selain itu, ada nilai plus lain yang dimiliki oleh mahasiswa yang identik dengan kacamatanya yaitu pintar masak dan rajin cuci piring. Jika teman laki-lakinya nongkrong depan TV maka ia lebih suka nongkrong di dapur.

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi ini bahkan lebih lihai memasak dibandingkan dengan perempuannya. Tak hanya itu, produktivitas dan intensitasnya juga patut diacungi jempol. Satu triwulan, iya sama sekali tak pernah absen di setiap agenda redaksi.

3. Abdul Wahid Muhsin (Si Sabar Bermuka Sangar)

Jika dilihat sekilas, mukanya memang sangar. Tapi kenyataannya Tidak kok. Lelaki berperawakan tinggi kurus ini adalah pribadi yang tenang dan tidak neko-neko.

Awalnya mahasiswa Jurusan Teknik Sipil ini bergabung dengan keluarga LPM Profesi UNM dengan niat ingin menjadi seorang fotografer. Karenanya, seringkali ia menawarkan diri untuk memotret ketika ada momen penting.

Hanya saja, semangat besarnya untuk memotret tidak sebanding dengan kualitas gambar yang dihasilkan. Ia pun kerap disuruh memotret ulang lantaran gambar yang dihasilkan blur alias kabur.

Kendati demikian, Wahid tetap semangat untuk menjalankan tugas memotret dari fotografer. Alhasil, beberapa fotonya pun sempat dimuat di tabloid LPM Profesi UNM.

Meski sudah memiliki talenta di bidang fotografi, namun kemampuan Wahid dalam menulis berita masih kurang. Redaktur pun kadang sakit kepala dibuatnya ketika mengedit hasil tulisan anak ini.

4. Musfirah (Panggil Aku Princess)

Musfirah memiliki keunikan tersendiri diantara teman-temannya. Gadis berdarah Palopo ini memiliki nama sapaan yang beragam mulai dari Musfirah, Fira hingga Mega. 

Nama Mega yang tidak memiliki hubungan dengan kosakata namanya, kerap membuat beberapa senior bahkan pengelola hampir tak mengenali nama itu.

"Siapa itu Mega? magang?" kata salah satu senior LPM Profesi UNM saat mendengar Musfirah disapa oleh teman-temannya.

Seolah tak mau kalah dengan Syahrini, Musfirah juga kerap ingin dipanggil princess. Panggilan itu sudah menjadi panggilan sehari-harinya saat masih menjadi magang hingga saat ini.

Bahkan, antar-jemput sudah menjadi kebiasaan mahasiswa Geografi ini saat berkunjung ke redaksi LPM Profesi UNM. Bak princess di negeri dongeng yang memiliki pengawal dan siap mengantar ke mana saja.

Hanya sekali membuat tulisan 'Jemput dulu ee' di salah satu grup angkatan miliknya, dengan secepat itu juga penjemput datang. 

Seolah ingin menjadi princess misterius, kedatangannya ke redaksi LPM Profesi UNM kadang membuat riuh tapi Mega tetap menanggapinya dengan diam dan hanya mengeluarkan senyuman mautnya.

5. Anggi Prakasi (Pembalap Lorong)

Sosok gadis ber pembawaan tentang, dan tutur kata yang halus sangat pas apabila ditujukan pada Anggi. Darah Bulukumba ini memang agak berbeda dari anggota baru Profesi lainnya. Saat berbicara Anggi terbilang 'hemat kata'.

Tapi kalau sudah naik motor, bayangan tentang Anggi akan mengingatkan tentang sinetron Anak Jalanan. Bak si Boy, Anggi bisa saja berada di kampus Parangtambung dan tiba-tiba di Gunung Sari dalam waktu singkat dengan mengendarai motor matic birunya.

Saat datang ke redaksi, orang-orang akan langsung tahu kedatangannya lantaran suara motornya yang khas. "Edede, Anggi pasti itu datang. Kenapami itu motornya ribut sekali," kata salah satu pengelola tiap kali Anggi datang.

Namun saat ditanya, Anggi pun mengaku tak tahu menahu dengan suara bising dari motornya. Entah karena motornya rusak atau memang sengaja dimodifikasi.

Untung saja, kelihatannya mengendarai motor tidak disalurkan dengan menjadi begal. Dengan kelincahannya, Anggi cekatan dan bertanggung jawab dengan liputan yang ditugaskan. Produktivitasnya pun sulit diragukan.

6. Dasrin (Jarang Mandi)

Pengelola baru yang ini bisa dibilang serba hemat. Sebab, ia kerap kali kedapatan tak mandi seharian saat di redaksi dengan alasan menghemat air. 

Terlebih lagi, jarang mengganti baju dan sering dipakai hingga 3 hari lamanya. "Masih bersih," katanya. Meski disinggung oleh teman, namun tak menyurutkan untuk melawan prinsipnya.

Meski jarang mandi, ia ternyata telah memiliki pujaan hati. Setiap tengah malam, dan sering akan menyendiri dalam ruang online di redaksi Profesi untuk teleponan dengan kekasihnya, yang tak ingin ia sebut namanya.

Mahasiswa asal Enrekang patut diacungi jempol. Demi menghidupi dirinya di perantauan, ia rela bekerja apapun yang penting halal. Pernah jualan nasi goreng, jadi waiter di cafe, jualan baju, dan masih banyak lagi.

"Untuk bayar UKT kak, supaya orangtua tidak terlalu terbebani," ujarnya.

Ia memiliki minat di bidang fotografi. Jika diberi amanah untuk memegang kamera redaksi saat meliput kegiatan pasti yang akan bersemangat. 

Hasilnya pun luar biasa, sangat kurang yang masuk di meja penerbitan, saking jeleknya. Bukan menyalahkan diri, dan sering malah melempar kesalahannya pada kamera yang tak berdosa itu.

Meski begitu, ia tetap berusaha dan percaya diri, berupaya memperbaiki. Seolah tak ingin lepas dari kamera, ya terus berlatih tanpa kenal waktu. Tempatnya mengekspresikan minat adalah di ruang online.

7. Nurul Atika (Si Jutek yang Salehah)

Jika pertama bertemu dengan Nurul Atika, atau biasa dipanggil Eka, pasti kesannya orangnya jutek juga sombong. Omongannya yang kadang-kadang terkesan sarkastik biasanya bikin orang-orang malas mendengar kelakarnya.

Namun sebenarnya, Eka termasuk ramah dan menyenangkan diajak bertanda titik meskipun candaannya kadang-kadang segaring kerupuk lima ratusan di warung sebelah redaksi.

Eka mahasiswa jurusan bahasa Inggris angkatan 2015. Terdengar keren ya jurusannya. Bayangannya pasti Eka lancar dan jago banget bahasa Inggrisnya kayak Selena Gomez. Tapi kenyataannya, ah sudahlah.

Di balik segala kekurangannya itu, gadis kelahiran Pinrang ini rajin beribadah dan juga mengaji. Penampilannya juga terlihat kalem dan memancarkan kecantikan seorang muslimah. Ia juga seringkali mengingatkan penghuni redaksi untuk melaksanakan salat.

"Shalat dulu kak," ujarnya.

Untuk produktivitas, Eka bisa dikategorikan lumayan, terutama sebagai penyiar di radio Profesi. Apalagi kalau bawa siaran program penyejuk kalbu.

8. Miftahul Rahmat Rauf (Sok Polos)

Menjadi yang termuda diantara teman-temannya tak mengurangi kepercayaan diri Miftahul Rahmat Rauf untuk tetap bertahan di lembaga kuli tinta ini. 

Lelaki yang sering dipanggil si muka polos nan lugu ini merupakan pengelola dengan cara bicara yang susah dimengerti.

Bahkan ketika seorang pengelola berbicara dengan mahasiswa Prodi Administrasi Bisnis ini kadang harus menahan emosi.

"Bahasa alien itu Mifta, bikin emosi saja kalau bicara sama dia," kesal salah satu pengelola.

Ia juga memiliki ciri khas tersendiri ketika datang di redaksi, yaitu geleng-geleng kepala dan kebiasaan menunduknya.

Bakat yang ia miliki di bidang desain grafis membuatnya kerap kali menjadi buronan Pemred. Pasalnya, ia sering kabur meninggalkan desainnya yang belum jadi.

Mifta diketahui sangat dekat dengan teman-teman angkatannya. Alih-alih dekat dengan perempuan, iya justru lebih memilih laki-laki untuk dijadikan tambatan curhatnya.

Kalau ditanya soal berita, mahasiswa Prodi Administrasi Bisnis ini tak mau kalah dengan teman-temannya. Meski jarang meliput, ia tetap pede dengan senyum khasnya. "Ada pernah beritaku kak," ucapnya nyengir.

9. Salmawati (Ratu Drama)

Penggila drama, itulah salmawati. Jika muncul di redaksi, tak lengkap baginya jika belum menceritakan hal-hal drama yang dilaluinya. Entah kejedot pintu kamar di kos, pertemuannya dengan narasumber sampai kena hujan, becek, dan enggak ada ojek.

Selain itu, mahasiswa asal Timika ini pun kadang disebut ninja. Itu karena ia sering menghilang tanpa komunikasi kepada temannya.

Namun tanpa disangka-sangka, ia bisa langsung muncul di depan redaksi. Mungkin ia menguasai jurus seribu bayangan Naruto.

Pernah suatu malam, ia langsung menghilang di redaksi. Padahal sebelumnya ia baru saja selesai menceritakan kisah hidupnya dengan pengelola. Ternyata ia ditemukan pingsan oleh temannya di jalan dekat redaksi saat pulang, lantaran tak ada yang mendengar ceritanya.

"Kudapatki Salma tadi pingsan di jalan pas mau ke redaksi," lapor temannya.

Meski sering lari-larian, tingkat kemauannya belajar di lembaga kuli tinta ini cukup tinggi apalagi, ia termasuk pengelola baru yang rajin piket di redaksi.

10. Wahyudin (Laki-laki Lemot)

Ketika pertama kali melihat mahasiswa yang akrab dipanggil Wahyu ini, kata yang terlintas dalam pikiran adalah seorang lelaki kalem. Wajah yang lugu membuat teman sengatannya menamainya Dodit, karena muka dan tingkah lakunya sangat mirip dengan komika tersebut.

"Wahyu toh kalem tapi kalem salah-salahki. Kalau ada disuruhkan biasa ndak sesuai harapan. Lemot sekali jadi lelaki," ungkap salah satu temannya.

Suatu waktu, ia pernah diminta membeli es batu di warung sebelah redaksi untuk dijadikan es teh. Lama tak kembali, ia menghabiskan uang Rp10 ribu dengan sekantong kresek es kristal. 

Teman-temannya kemudian mengatakan kalau IPK tak menjamin segalanya. Dengan IPK 3,90 yang diperolehnya, temannya berharap Wahyu bisa lebih kreatif dalam membeli sesuatu.

Untuk masalah pemberitaan, Wahyu terbilang produktif dan intens di redaksi. Apalagi setelah dibelikan kendaraan bermotor oleh ayahnya, jumlah berita yang dihasilkan dalam seminggu mendadak meningkat.

Ia adalah salah satu magang yang paling rajin serta sangat menurut, apalagi soal antar mengantar pengelola. Meski dalam keadaan sakit pun ia tetap semangat melaksanakan tugas sebagai pengelola.

11. Ayu Ananda Pratiwi (Si Over Size)

Gadis asal Luwu ini memiliki ukuran tubuh yang jauh berbeda dengan teman-temannya, baik dari tinggi maupun berat badan. Tak seperti namanya yang menggambarkan keayuan seorang perempuan, gadis yang biasa akrab dipanggil Ayu ini memiliki suara sesuai dengan bentuk tubuhnya yang over size.

Bahkan di depan pagar redaksi suara gadis ini akan terdengar sangat jelas sampai di dapur. Kebiasaannya bicara dengan suara membahana membuat redaksi tak pernah sepi dan membuat dirinya kadang diolok-olok oleh kawannya sendiri.

"Deh, kamu itu Ayu besar dudu suaramu kayak tong bodimu," kata seorang temannya.

Mahasiswa Prodi Pendidikan IPS ini seringkali mengoceh mengenai isu-isu di kampus sebagai bahan liputan. Hanya saja, isu yang disampaikan tidak pernah diliput dan lebih sering beralasan. Ia pun sering mendapat teguran dari pemred lantaran beritanya yang tak kunjung diselesaikan.

Terlepas dari itu, ternyata Ayu sering merengek sampai menangis di hadapan teman pria seangkatannya untuk diantar pulang ke kosnya. Tapi, jurus jitu Ayu tak digubris.

"Takut kak kempes lagi ban motorku, besar duduki Ayu ndak bisa jalan motor," ungkap seorang temannya.

Dengan muka memelas dan penuh air mata, ia terpaksa pulang dengan ojek online. Bahkan ia pernah pulang dengan berjalan kaki sambil menangis tersedu-sedu.

Meski demikian, ya masih mempertahankan intensitasnya untuk tetap bergelut di lembaga kuli tinta ini. Kini, Ayu mengasah bakatnya di bidang broadcasting, sebagai salah satu penyiar di radio profesi. Sifatnya yang gemar bercuap-cuap kini tersalur sudah.

12. Karmila (Tukang Tidur)

Karmila, lebih sering dipanggil Mila. Namanya agak feminim tapi tidak membuatnya dikategorikan sebagai perempuan jika dilihat dari segi penampilannya. 

Rambutnya yang pendek dengan setelan pakaian outdoor menjadi ciri khas mahasiswa asal Kabupaten Baru ini. Ditambah lagi dengan cara berjalannya yang sangat mendukung untuk dinobatkan sebagai lelaki. 

Tidak seperti perempuan kebanyakan. Baginya tidur adalah prioritas utama, dimanapun dan kapanpun. 

Profesi pernah membuat agenda hingga larut, lantaran takut pulang malam semua pengelola terpaksa menginap di redaksi. Paginya, semua perempuan sudah bangun dan pulang, kecuali Mila yang masih belum bangun hingga pukul dua belas siang.

Meski perawakannya seperti itu, ia tetap perempuan yang lembut. Sampai saat ini, ia belum berani mengendarai motor. Bahkan mahasiswa angkatan 2015 ini lebih memilih memendam perasaan daripada mengungkapkannya.

"Nggak enak sama orangnya," katanya.

Tapi jangan salah, ia termasuk anggota baru yang loyal. Hampir 24 jam, pergi pagi pulang pagi, ia menghabiskan waktunya di redaksi Profesi. Ia salah satu penyiar Profesi yang bisa membuatmu tak percaya jika mendengar suaranya yang lembut.

13. Andi Asoka Ulfa (Jagonya Senter-senter Bella)

Berbadan kecil, seperti itulah gambaran awal ketika bertemu dengan gadis cetakan Kabupaten Soppeng ini. Jangan salah kecil-kecil begitu dia sangat lincah loh. Apalagi jika terkait lelaki dan perasaan.

Teman-temannya pun mengakui kepiawaiannya dalam mencari perhatian kaum Adam. Beberapa lelaki disebut-sebut pernah dekat dengannya. Cukup sederhana untuk melancarkan misinya, ia modus berwawancara lalu berkenalan dan melanjutkan pembicaraannya lewat sosial media.

Tak heran, ia menjadi bulan-bulanan di redaksi profesi. Apalagi sempat beredar kedekatannya dengan salah satu pengurus lembaga kemahasiswaan. Bahkan, ia sering tertangkap sedang menengok akun Instagram sambil senyum-senyum sendiri melihat postingan dambaan hatinya itu.

Diantara teman-temannya, Asoka masuk kategori magang terbaper. Karena tempat tinggalnya sangat jauh dari markas Profesi, temannya pun enggan mengantarnya pulang. 

Hingga suatu ketika setelah rapat sekitar pukul 24.00, karena tak ada yang bersedia memberikan tumpangan ia rela berjalan kaki tanpa tujuan untuk menarik simpati dan membuat temannya merasa bersalah.

Sementara dalam hal pemberitaan, karena senang berwawancara, senang bertemu dengan orang baru, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini cukup rajin meliput, produktivitasnya terbilang bagus khususnya di online.

14. Masturi (Bicara Kumur-kumur)

Badan kurus nan kering dengan rambut keriting, itulah gambaran salah satu anggota baru LPM Profesi UNM ini. Ia lebih akrab disapa Abang oleh teman satu angkatannya di redaksi.

Pengelola lebih suka melihat Abang diam saat di redaksi. Pasalnya saat berbicara, terkadang yang ia bicarakan kurang jelas. Bahkan, ia sering ditegur oleh pengelola lantaran cara bicaranya yang tidak jelas.

"Kamu bilang apa Abang, kenapa kayak kumur-kumur caramu bicara," tegur salah satu pengelola.

Persoalan perasaan, ia pernah dikabarkan menaruh perasaan dengan salah satu perempuan yang juga anggota baru di Profesi. Kecurigaan teman-teman seangkatannya berawal dari Abang yang tiba-tiba mengubah foto profil sosial medianya dengan foto perempuan yang ditaksirnya itu.

Kecurigaan tersebut semakin menjadi-jadi saat Abang ketahuan menyimpan foto perempuan itu di dompetnya. Tapi, saat ditanya, perempuan FBS itu mengaku hanya berteman baik dengan Abang. Nampaknya Abang bertepuk sebelah tangan.

Beda halnya dengan perasaan, kinerjanya patut diapresiasi. Bagaimana tidak, ia bisa melakukan liputan di lapangan, menulis berita hingga melayout naskah beritanya sendiri. Ia juga beberapa kali ditunjuk menjadi fotografer.

Yang merupakan anggota baru yang serba bisa bisa jadi tukang ojek, tukang cuci piring, tukang pijit, dan tukang service inventaris redaksi.

15. Siti Nurhaliza (Ngaku Paling Muda)

Siti, sapaan akrab mahasiswa angkatan 2016 ini. Ia sering merasa sebagai awak Profesi paling muda karena angkatannya. Tapi nyatanya tidak sesuai, jika melihat wajah dan namanya yang agak ketuaan. Ditambah lagi dengan badannya yang agak besar. Akhirnya, seringkali pengelola lupa dengan status Siti yang masih mahasiswa baru.

"Kak, mahasiswa baruka kodong. Mahasiswa angkatan 2016," jelasnya.

Sebelumnya, ia pernah menjadi mahasiswa di Universitas Tadulako dengan mengambil jurusan Matematika. Lantaran tak sanggup dengan jurusannya, ia memilih mendaftar kembali menjadi mahasiswa baru di UNM dengan jurusan yang berbeda.

Meski terlihat dewasa, mahasiswa asal Palu ini ternyata suka ngambek sama teman angkatannya. Apalagi jika teman seangkatannya tidak meresponnya.

Walaupun demikian, ia merupakan anggota baru yang loyal. Setiap pagi, ia memulai rutinitasnya di redaksi LPM Profesi UNM dengan membersihkan dapur. Persoalan berita, ia sering menjadi anggota baru paling produktif dalam menghasilkan berita online.

Ia juga termasuk anggota baru yang jarang melanggar deadline, sehingga ia sering diberi tugas oleh pemimpin redaksi untuk masuk ke dalam liputan weekly news maupun tabloid.

***

TULISAN ini terbit di Tabloid LPM Profesi UNM edisi 214 pada Mei 2017. Sebenarnya ditulis oleh pengelola yang menggembleng kami selama proses magang. Selalu girang setiap membaca pribadi masing-masing magang dari sudut pandang senior yang cukup sarkas.

Beginilah cara lembaga ini memperkenalkan para anggota barunya kepada khalayak umum. Dimuat di Tabloid LPM Profesi UNM, lalu dibagikan kepada ribuan mahasiswa, dosen, dan pejabat kampus.

Masing-masing diberi julukan atas perilaku selama magang. Sebagian benar sesuai fakta, tapi ada juga yang dilebih-lebihkan agar lebih gurih dibaca.

Ada saja perilaku unik dari masing-masing magang membuat suasana redaksi yang tegang menjadi cair. Yah meski ruang redaksi kadang menjadi seperti kebun binatang kala produktifitas pemberitaan menurun atau ada program yang tidak berjalan dengan baik.

Tapi tidak banyak yang bisa mengikuti dinamika di lembaga ini. Atau mungkin banyak yang hanya coba-coba mendaftar tapi tidak sesuai minat yang dimiliki yaitu jurnalistik. Akhirnya muntaber: mundur tanpa berita.

Sebenarnya kami yang mendaftar Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) atau seleksi tahap pertama itu ada seratus lebih. Kemudian dinyatakan lolos sebanyak 64 orang. Inilah yang kemudian mengikuti proses magang selama kurang lebih enam bulan.

Dalam proses magang pun satu persatu berhenti. Ada yang mundur dengan sendirinya dan ada juga yang diberhentikan secara paksa atau dipecat. Hingga tersisa 15 orang yang bertahan dan resmi menjadi anggota baru dan masuk dalam struktur kepengurusan lembaga.

Tapi dari 15 orang ini, tidak semua bertahan sampai kepengurusannya selesai. Tersisa hanya empat orang yang berhasil menyelesaikan semua tahapan di lembaga ini selama tiga tahun lebih.

Demikian catatan tentang Panca Dasa Siap Berkarya. Terimakasih sudah membaca sampai selesai.

Salam,

signature

Bagikan Artikel Ini

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url