MALAM itu: Muhammad Anis Fauzan, Juswanda Safitri, Rahmawati Nawir, Nur Akifa Rifai, dan Risdayanti (sengaja saya tulis nama lengkapnya supaya situs blog ini muncul kala mereka searching namanya di Google—haha, marketing SEO) sedang duduk santai di teras rumah. Pembicaraan mengalir random. Mulai dari tugas perkuliahan yang telah usai hingga rencana liburan untuk melepas penat.
"Ayo deh ke Toraja liburan," celetuk Rahma yang mengaku lebih senang disapa Rambo.
"Kapan? Agendakan-mi," Juswanda, si lesung pipi menimpali.
"Ayok-mi! Nginap di rumahku-mi dulu. Sudah salat Subuh baru berangkat ke Toraja," seru Anis, ustadznya anak Vokasi yang punya rumah di Sidrap.
Dari Sidrap ke Toraja, jaraknya hanya sekitar 164 kilometer dengan waktu tempuh sekira empat jam perjalanan. Sementara jika dari Kota Makassar, jarak ke Toraja sekitar 318 kilometer. Lebih jauh. Hampir dua kali lipat. Kebetulan Anis adalah orang Sidrap. Rumahnya bisa jadi alternatif untuk istirahat dalam perjalanan.
Rencana ini kemudian kami sebar ke grup kelas. Sayang, respons teman-teman kurang mendukung. Banyak di antara kami orang kampung, dan kampungnya jauh-jauh. Mereka sudah pulang kampung karena libur cukup panjang.
Saya juga sebenarnya orang kampung. Cuma kampungku dekat: Maros. Tiap selesai kuliah di Makassar, saya langsung pulang kampung. Haha.
Beberapa hari kemudian, Wanda, sapaan akrab Juswanda, mengajak. "Kak, ayo ke Barru," tulisnya via WhatsApp.
"Toraja batal," dara Enrekang itu melanjutkan.
Sepertinya rencana Wanda cs ke Barru sudah matang. Dia langsung kirim schedule yang sudah dibuat untuk dua hari satu malam. Mulai dari Bukit Jelloreng, Bukit Maddo, Padang Indah, Eco River, hingga Air Terjun Waesai/Salopuru. Semua wisata di Bumi Colliq Pujie mau disapu rata sekali jalan.
"Ngecamp meki di Padang Indah," Wanda menambahkan.
Sayangnya, saya tidak punya tenda untuk ngecamp. Begitupun dia dan teman-teman yang mau berangkat bareng. Haha, bagaimana ceritanya ini? Mau ngecamp tapi tidak ada peralatan.
Akhirnya batal. Bukan liburannya, tapi ngecamp-nya. Rencana awal satu malam dua hari dan ngecamp, jadinya pergi-pulang saja. Tanpa ngecamp. Tujuannya dipangkas hanya dua: Pekkae Eco Lodge & Ecoriver Cafe dan Padang Indah.
Dua lokasi wisata itu berdekatan dan satu arah. Pertama, kami akan mendatangi Pekkae Eco Lodge & Ecoriver Cafe. Kemudian kedua, Padang Indah. Yang kedua menjadi tujuan utama karena di dekat wisata itu letak kampungnya Risda. Ternyata teman KKN-nya Wanda itu akamsa (anak kampung sana). Juga orang kampung.
Haha, sebenarnya kami semua orang kampung yang merantau ke kota untuk kuliah, kemudian seolah-olah rindu liburan ke kampung.
Berangkat dari Moncongloe
Titik kumpul adalah Moncongloe, kecamatan di Maros yang berbatasan dengan Makassar. Di sana Rifa tinggal, di salah satu perumahan dekat pom bensin.
Saya berangkat dari rumah di Tompobulu pukul 07.00. Wanda dan Rifa baru saja selesai makan nasi kuning saat saya tiba. Tidak habis. Sisanya mereka bungkus sebagai bekal. Sementara itu, Rahma sedang antre mengisi pertalite di Pertamina. Karena perjalanan cukup jauh, dia mengisi full motor Grand Filano-nya.
"Anis menyusul sama Yani," kata Wanda.
Setelah Rahma datang, kami berangkat setengah delapan. Saya berboncengan dengan Wanda. Sementara Rambo membonceng Rifa.
Jalur yang kami lalui dari Moncongloe ke Tanralili terus ke Turikale. Kemudian lewat 'jalan baru' yang luas, lurus, mulus, dan sepi itu sebelum tembus ke Jalan Poros Maros. Rute ini lebih dekat dan tidak macet.
Masih di Jalan Poros Maros, saya dan Wanda singgah membeli Roti Maros Salenrang dua rasa: gula aren dan pisang cokelat. Harganya Rp50.000.
Di Alfamart Pangkep, Rambo dan Rifa juga singgah beli camilan. Banyak sekali. Sampai-sampai bagasi motor Filano-nya yang berkapasitas 27 liter itu sesak. Nota di struk tertera: Rp142.000.
Setelah bekal terasa cukup, kami lanjut berangkat. Dari Pangkep masuk ke Barru. Tibalah kami di kabupaten tujuan. Tapi, lokasi wisata masih jauh dari jalan poros.
Pekkae Eco Lodge & Ecoriver Cafe
Tujuan pertama adalah Pekkae Eco Lodge & Ecoriver Cafe. Sepertinya wisata ini keren kalau dengar dari namanya, meski saya juga tidak tahu persis artinya apa. Lokasinya di Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru.
Dari Pangkep, tidak jauh dari perbatasan, tepat di lampu merah Pekkae, kami belok kanan ke Jalan Poros Pekkae-Soppeng. Beberapa kali saya melewati jalan ini kalau mau ke Soppeng, Wajo, atau Bone. Tapi akses jalan masuk ke tempat wisata ini saya belum tahu. Begitupun dengan Wanda, Rahma, dan Rifa. Jadi, kami dipandu Google Maps.
Dari lampu merah, lumayan jauh menempuh Jalan Poros Pekkae-Soppeng. Kami melewati jalur kereta api, beberapa jembatan, masjid, pasar, juga wilayah pengrajin cobek dan ulekan batu.
Tiba-tiba helm Wanda membentur helmku dari belakang. Tokkkk!
"Ngantukka kurasa, Kak," katanya setengah sadar, yang baru betul-betul sadar saat merasakan benturan helm.
Ternyata dia tidur. Padahal masih pagi. Saya tetap fokus berkendara, sesekali melihat Rahma di belakang melalui kaca spion. Laju motornya agak lambat. Saat dia tidak terlihat, gas motor saya undur. Menyesuaikan dengan kecepatan gadis asal Bulukumba itu.
Sebelum sampai Bulu Dua—saya lupa nama jalan dan pertigaannya, silakan buka Google Maps jika ingin ke sana—kami belok kanan. Di sini jalannya mulai sempit dan banyak lubang. Jaringan internet hilang. Untung saja Maps masih berfungsi meski offline. Hingga akhirnya, tibalah kami sesuai titik tepat di sebuah rumah warga.
Seorang pria paruh baya menyambut, lalu mengarahkan kami masuk ke kolong rumah panggung.
"Di sini meki parkir. Rp2.000 per motor," katanya.
Setelah parkir, kami mengambil sebagian camilan di bagasi. Lalu berjalan kaki masuk ke tempat wisata. Jaraknya sekitar 50 meter dari tempat parkir.
Sinar matahari mulai terik. Jam menunjuk pukul sebelas lewat seperempat. Wah, ternyata perjalanan dari Moncongloe butuh waktu 3 jam lebih. Padahal normalnya bisa dilalui cukup 2 jam. Mungkin karena terlalu sering singgah beli camilan dan Rahma kurang berani menarik gas motornya sampai mentok.
Memasuki lokasi wisata, terdapat beberapa papan petunjuk. Deretan rumah khas seperti honai berjejer rapi. Di depannya terhampar rumput nan hijau. Tepat di pinggir jalan, tersusun batu sungai yang diikat kawat besi membentuk pagar.
Di hamparan rumput dan jejeran rumah honai itu udaranya sangat terik. Rencana untuk berswafoto dengan background itu pun surut. "Hitam-ka nanti," keluh Rifa yang berkulit kuning langsat agak gelap.
Di sisi kanannya terdapat sungai. Luas dan panjang. Sisi kiri-kanan sungai itu diapit tebing batu. Di atas batu, pepohonan kayu tumbuh rimbun. Ada juga rumpun bambu. Udaranya sangat sejuk dan adem. Hanya terdengar suara aliran air, semilir angin menggoyang pepohonan, dan sesekali pantulan suara petani menebang bambu di seberang sungai.
Air sungai itu jernih. Tampak jelas dasarnya. Di pinggirannya dangkal, namun di tengahnya terlihat dalam. Di beberapa titik, airnya tenang seperti di sebuah kolam. Sepertinya di area itu airnya cukup dalam.
"Dilarang mandi kalau musim hujan." Demikian informasi yang tertulis di tebing batu pinggir sungai. Yang menulis mungkin khawatir tiba-tiba air bah datang dan pengunjung sulit melarikan diri.
Tapi kali ini musim kemarau. Matahari terik. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.
Kami langsung turun ke tepi sungai. Sejenak menyimpan barang bawaan, camilan, dan jaket di atas batu. Lalu kami merendam kaki sampai ke betis. Airnya dingin, sungguh kontras dengan terik mentari. Ingin sekali rasanya langsung nyebur.
"Enaknya ini mandi. Berenang ke sana," kata Rifa menunjuk tepi sungai di seberang tempat kami berdiri.
"Mutauji berenangkah?" Rambo bertanya dengan nada meledek.
"Tau dong. Berenang batu. Hahaha," gadis Sinjai itu terkekeh-kekeh.
Rahma mengeluarkan iPhone-nya. Memotret sana-sini. Berswafoto, lalu minta difotokan sendiri. Kemudian foto bersama. Kami saling bergantian berfoto dengan background sungai pakai HP mahalnya.
"Pokoknya kita kasih full memori iPhone-nya Kak Rahma," kata Wanda yang usianya dua tahun lebih muda, sambil minta difoto dari berbagai angle.
Di batu sana keren. Ya, duduk di situko duduk. Seolah-olah melihat ke samping. Senyum dikit. Lesung pipinya masih kurang dalam. Perlebar senyum. Tunggu dulu ada kupu-kupu lewat. Ya, tahan. Satu, dua, cekrek. Cekrek. Cekrek.
"Ayo foto berempat. Pakai tripod," ajak Rifa.
Setelah menjepit iPhone di tripod, Rahma menyetel timer 10 detik lalu berlari mengambil gaya. Tahan napas. Senyum. Lampu blitz menyala. Hahhhh. Napas yang tertahan berembus.
![]() |
| Pekkae Eco Lodge & Ecoriver Cafe |
Setelah merasa semua sudut pandang sungai terekam kamera, kami beranjak naik ke sebuah tempat yang berbentuk kafe.
Tempatnya sangat indah. Berada di ketinggian (mungkin sekitar 20 meter) tepat di atas tepi sungai. Terdapat banyak meja yang dikelilingi kursi. Tapi kosong. Tidak ada orang. Mungkin kami pengunjung pertama hari itu. Apalagi ini hari kerja, bukan waktu libur. Mungkin itu penyebab sepinya.
Kami mendekati sebuah rumah di dekat kafe itu. Ada seorang ibu dan seorang gadis di sana. Ternyata mereka penjaga tempat wisata itu.
"Bayar-ki dulu untuk menikmati semua fasilitas di sini," katanya.
Wanda mengeluarkan goban untuk tiket empat orang. Itu pun masih ada kembaliannya.
Saya tidak tahu apakah kafe itu menyediakan makanan dan minuman atau tidak. Kami tidak bertanya dan juga tidak mau tahu. Ibu itu juga tidak menawari. Kami membawa makanan dan minuman sendiri.
Di kafe itulah kami beristirahat. Di sebuah meja, kami membongkar semua makanan bawaan. Satu per satu dibuka, lalu dimakan bersama. Tidak ketinggalan foto-foto dan bikin video timelapse saat sedang makan. Suasana kafe itu sangat adem. Sejuk. Semilir angin bertiup sepoi-sepoi, meski kadang sedikit kencang. Meskipun matahari bersinar terik, suasananya tetap teduh.
![]() |
| Pekkae Eco Lodge & Ecoriver Cafe |
Tidak lama kemudian, Anis dan Tri Putri Cahyani—atau yang akrab disapa Yani—juga datang.
"Wehh ketemu-ka tadi bapakku di jalan. Kulambungi," kisah Anis menceritakan perjalanannya.
Yah, itulah yang membuat Anis terlambat. Bapaknya sempat pergi ke Makassar. Setelah bapaknya pulang ke Sidrap, barulah dia bisa berangkat bersama Yani.
"Tidak naliat jeko bapakmu bonceng cewek?" Rambo bertanya meremehkan.
"Haha, tidak," balas Anis.
Kini kami genap berenam. Sebenarnya kami ingin berenang, tapi tidak ada yang bawa baju ganti. Jadi, kami hanya menonton akamsa yang sedang asyik berenang di sungai. Sesekali mereka naik ke tebing di pinggir sungai lalu melompat. Seru sekali melihat aksi mereka.
Di atas meja, berbagai makanan dan snack tergeletak. Yani hanya makan sedikit, lalu mengeluarkan buku karya Sapardi Djoko Damono dan mulai membacanya.
Gadis asal Gowa berdarah Jawa itu memang tidak gila foto seperti Wanda, Rahma, dan Rifa. Ia lebih memilih menjadi kutu buku. Rumahnya di Gowa bahkan penuh dengan tumpukan buku, mulai dari ruang tamu hingga gudang. Dari buku tipis puluhan halaman hingga setebal seribu halaman.
Yani orangnya pendiam tapi murah senyum. Kalem dan irit bicara. Jarang sekali menyapa duluan, ia lebih suka menyimak orang bercerita. Tapi dia tidak cuek. Orangnya ramah, lumayan gaul juga sih. Di lokasi wisata ini, dia bahkan menggunakan dua kacamata sekaligus: kacamata minus yang didoble kacamata hitam. Haha kontras juga dengan kepribadiannya.
Arghhh, kok malah jadi bahas Mbak Yani, sih? Lain kali sajalah kita bahas sosok gadis yang kepribadiannya masih misterius itu. Kita kembali ke sungai.
Di bagian hulu sungai, tampak seorang pria sedang memasang perangkap ikan berbahan dasar bambu alias bubu. Anis melompat dari kafe, turun ke sungai, dan berjalan ke arah hulu tempat pria itu memasang bubu.
Saya ikut menyusul. Rambo dan Wanda juga. Sementara Rifa takut melompat dari ketinggian, apalagi Yani. Jadi, tinggallah mereka berdua di meja menjaga barang bawaan dan makanan. Yani lanjut menyelami bukunya.
Setelah menyusuri sungai sekitar 50 meter, sampailah kami di tempat bubu itu dipasang. Namun, bapak yang memasangnya sudah pulang.
Di tempat itu, air mengalir cukup deras. Arusnya mengarah langsung ke pintu masuk bubu. Di sisi kiri dan kanan bubu tersebut dibendung menggunakan batu. Jadi, satu-satunya jalan bagi ikan yang berenang mengikuti arus adalah masuk ke dalam perangkap.
"Ada-mi ikannya itu di dalam," tebak Anis.
Sejenak kami berfoto-foto di spot itu lalu kembali ke kafe.
Waktu Zuhur sudah tiba. Sayangnya tidak ada masjid. Hanya ada sebuah rumah yang menyediakan sajadah untuk dipakai salat. Di situlah pengunjung secara bergantian berkomunikasi dengan Tuhan.
Sekitar pukul 13.00, perut mulai keroncongan lagi. "Lapar-ma kurasa," keluh Anis sambil memegangi perutnya yang mulas.
"Ayok-mi pergi cari makan, baru lanjut ke Padang Indah," Rifa merespons.
Kami pun segera beres-beres, mengemasi barang dari kafe. Sempat foto bersama lagi di depan rumah honai sebelum akhirnya bertolak mencari makan.
![]() |
| Pekkae Eco Lodge & Ecoriver Cafe |
Makan di Warung Sido Dadi
Jalan yang kami lalui sama dengan waktu pergi tadi. Saat tiba kembali di Jalan Poros Pekkae-Soppeng, kami belok kiri ke arah jalan poros Barru. Kami mencari warung makan.
Sudah cukup jauh berkendara, tapi kami tak kunjung menemukan warung. Arah tujuan ke Padang Indah juga belum jelas, apakah mengikuti arah Makassar atau Soppeng.
Wanda pun menelepon Risda sang akamsa itu. Dia melakukan video call sambil berbagi tampilan layar Maps.
"Weh, jauh-meko itu keluar. Putar balik ke arah Bulu Dua," kata Risda menggunakan dialek Bugis Barru.
"Oke, tapi ada-ji warung makan di pinggir jalan ke sana?" Wanda yang sudah kelaparan memastikan.
"Ada-ji di sebelah kiri setelah Pertamina," ujar Risda.
"Jauhkah?" Wanda bertanya lagi.
"Tidak terlalu jauh-ji iyya," balas Risda.
"Janganmi pale matikan telepon. Kita VC terus sampai dapat," ketus Wanda.
Sekitar lima menit perjalanan, kami akhirnya menemukan pom bensin. Tandanya sudah dekat.
"Sedikit lagi," sahut Risda yang masih memantau dari video call.
"Nah itu dia. Warung Sido Dadi," Wanda menunjuk ke sebelah kiri. Karena motor kami melaju sedikit kencang, kami jadi kelewatan sekitar sepuluh meter.
Kami putar balik dan singgah makan. Menunya lumayan banyak. Ada bakso, pangsit, soto ayam, sup ayam, nasi campur, gado-gado, ayam goreng, ayam lalapan, dan masih banyak lagi. Harganya juga sangat bersahabat di kantong. Cuma Rp15.000 per porsi.
"Apa bedanya soto ayam dengan sup ayam, Pak?" Rahma si anak Jurusan Kuliner itu bertanya ke pemilik warung.
"Soto ayam pakai nasi. Kalau sup ayam pakai lontong," jawab sang pemilik warung.
Saya sebagai anak Otomotif hanya manggut-manggut sok paham, seolah baru tahu perbedaannya.
"Kalau nasi campur itu bagaimana? Apakah semua makanan di menu itu dicampur jadi satu?" Rifa ikut co'do bertanya.
Buru-buru Rahma menjelaskan kalau nasi campur bukan berarti semua di daftar menu dicampur menjadi satu. Pemilik warung hanya tersenyum maklum mendengar pertanyaan konyol dari Rifa, si anak Jurusan Broadcasting dan Perfilman itu.
Saya memesan soto ayam. Begitu juga Rambo. Wanda memilih bakso. Anis memesan pangsit. Sedangkan Rifa dan Yani kompak memesan ayam lalapan.
Kami makan dengan lahap sampai keringatan. Segelas air es jadi penyeimbang dahaga. Saat sedang asyik makan, Irsyad tiba-tiba menelepon via video call. Katanya otw menyusul, tapi tak sampai-sampai. Bullshittt.
Saya, Anis, Rambo, Wanda, dan Yani sudah selesai makan. Tersisa Rifa yang masih sibuk menggerogoti ayam gorengnya.
Tiba-tiba Risda menelepon lagi, mengingatkan agar tidak terlalu lama bersantai. Sebab, rute ke Padang Indah masih jauh, harus melewati perbukitan.
Wanda langsung mengomeli Rifa agar buru-buru menghabiskan ayam gorengnya. "Kak, masih makan-ka kodong," rengeknya.
Haha, begitulah karakter Rifa yang kelakuannya masih mirip bocil. Dia memang yang paling muda di antara kami. Jadi, meski sering diledek dan disuruh sana-sini, dia nurut-nurut saja. Tidak berani membantah, apalagi melawan.
Ada undang-undangnya: Pasal 1, senior tidak pernah salah. Pasal 2, kalau senior salah, kembali ke pasal 1. Haha.
Lika-Liku Menuju Padang Indah
Perut sudah kenyang. Waktunya kembali mengaspal. Sebelum benar-benar berangkat, Anis putar balik ke pom bensin sebentar untuk mengisi Pertalite. Khawatir bensin motornya tidak cukup sampai di tujuan.
Ketika semua sudah siap, kami beranjak dari Warung Sido Dadi ke arah Bulu Dua. Tidak jauh dari warung itu, kami belok kanan ke arah Pujananting. Kali ini kami tidak lagi mengandalkan Google Maps, melainkan dipandu secara live oleh sang akamsa, Risda, lewat video call.
Memasuki kawasan Pujananting, pikiranku mendadak bernostalgia. Delapan tahun lalu, saya pernah melewati jalan ini. Waktu itu saya bersama 3 orang teman pergi mencari rekan seorganisasi. Rumahnya jauh dan harus melewati jalur ini juga.
"Dimana posisi, Bosku? Adaka' di Pujananting ini," saya merekam jalanan dari atas motor dan mengirimkan videonya ke teman saya itu.
Hanya ceklis dua. Tidak dibaca.
Sepanjang Pujananting, jalanan masih mulus dan datar. Hingga tiba di pertigaan Bacu-Bacu, kami diarahkan belok kiri. Mulai dari sini, jalanan berubah. Banyak lubang, rute mendaki, menyusuri lembah, hingga naik gunung.
"Bagaimana jalannya? Cantik, toh? Begitu yang saya rasakan setiap pulang kampung," ledek Risda dari balik telepon, memvalidasi penderitaan kami sambil tertawa.
Kami hanya bisa tertawa getir mendengarnya. Saking berguncangnya, orang hamil delapan bulan bisa keguguran kalau dibonceng lewat jalan ini.
"Terus-terus saja. Setiap dapat pertigaan, belok kanan terus. Jangan belok kiri," pinta Risda dari seberang telepon. "Saya tunggu di atas, di pinggir jalan," pungkasnya sebelum panggilan berakhir.
Tak lama setelah itu, jaringan mulai jelek dan akhirnya hilang total. Panggilan dengan Risda terputus.
Kata-katanya yang menyuruh kami "belok kanan terus setiap ada pertigaan" terus terngiang di kepala. Jalanan semakin menantang: berkelok-kelok, menanjak curam, dan penuh lubang.
"Bernafas jeki kak?" kata Wanda yang terguncang-guncang di belakang.
"Bernafas dong." Sepertinya dia tahan nafas dibonceng.
Beberapa kali Yani terpaksa turun dari motor dan berjalan kaki karena motor Anis tidak kuat menanjak. Begitupun Rifa yang dibonceng Rambo, ia juga beberapa kali harus turun dan jalan kaki.
"Turun-ka juga ini, Kak?" Wanda bertanya.
"Wah, mupandang entengka ceritanya ini. Sebagai anak otomotif, pantang kasih turun boncengan kalau cuma jalan begini!" jawabku bangga sebagai anak otomotif. Haha.
Anak otomotif itu selain harus bisa bongkar mesin motor, juga harus jago bawa motor di jalur ekstrem sekalipun. Selama jalanan masih bisa dilalui dan mesin motor sanggup, pantang menyerah. Haha.
Akhirnya, di sebuah pinggir jalan dataran tinggi—area yang lumayan luas dan cocok untuk tempat istirahat—kami menemukan Risda. Kami singgah sejenak. Menghela napas dan berfoto-foto.
![]() |
| Pose para lajang berdoa segera dapat jodoh. |
Begitu motor berhenti, Anis langsung melompat turun, menepi ke semak-semak, lalu jongkok dan mual-mual. "Mabokka kurasa," keluhnya dengan wajah masam sedikit pucat.
Serentak kami tertawa meledak. "Biasanya orang yang naik mobil yang mabuk. Ini dia yang bawa motor, dia sendiri yang mabuk!" ledek Rambo tanpa ampun.
Jam menunjuk pukul setengah empat sore. Sinar matahari masih menyengat, tapi kami sama sekali tidak kepanasan meski berdiri tanpa peneduh. Angin di ketinggian itu bertiup kencang sekali.
Sebuah minibus lewat di dekat kami. "Panas, Adek-adek!" teriak sang sopir yang kami tidak juga mengenalnya. Haha.
Tidak jauh dari titik itu, ada sebuah masjid. "Salat Asar di situ meki dulu baru lanjut," saran Risda.
Usai menunaikan ibadah Salat Asar, perjalanan kembali dilanjutkan. Rutenya ternyata makin parah. Tanjakannya makin curam, jalannya berbatu lepas, sempit, dan berkelok-kelok. Lebarnya hanya pas untuk dilalui motor.
Karena jalurnya lumayan ekstrem, boncengan Rambo dan Anis terpaksa kembali turun dan berjalan kaki beberapa kali sebelum akhirnya kami benar-benar tiba di tujuan.
Hamparan Zamrud di Depan Mata
Setibanya di kawasan puncak Padang Indah, pemandangan magis tersaji seolah menghapus lunas semua rasa lelah selama perjalanan. Padang sabana hijau membentang luas sejauh mata memandang. Posisinya bertengger megah tepat di atas puncak gunung.
Langit membiru cerah. Awan putih berarak perlahan. Bayangan awan-awan itu sesekali melintas di atas padang rumput, tampak bagaikan lukisan yang bergerak.
Risda masuk lebih dulu, mengambil peran sebagai guide. Kami harus melewati sebuah celah sempit di pagar kayu yang ukurannya hanya pas untuk satu badan. Kami semua mengekor di belakangnya.
Padang sabana yang konturnya mirip bukit Teletubbies itu sengaja dipagari. Di dalamnya terdapat tiga kelompok ternak yang dibiarkan bebas: beberapa ekor kuda peliharaan, sekelompok sapi, dan segerombolan kerbau.
Setelah berhasil melewati pagar, Wanda langsung berlari liar ke atas bukit sambil membentangkan kedua tangannya. Menari-nari kegirangan seperti artis Bollywood. Ia berteriak sekencang-kencangnya, melepaskan semua penat dan beban tugas LMS yang bersarang di kepalanya selama satu semester ini.
Anis tak mau kalah, ia mencuri start. Berlari sejauh-jauhnya mengejar dua ekor kuda sampai ke ujung sabana. Terus berlari sampai wujudnya mengecil, tak terlihat lagi, dan akhirnya tenggelam di ujung barat padang.
Rahma memilih berjalan santai. Ia tetap kalem, menyusul langkah Wanda dan Risda yang naik ke gundukan bukit.
Sementara itu, Rifa dan Yani berjalan paling belakang. Mereka terlalu sibuk mengabadikan lanskap luas itu menggunakan kamera iPhone milik Rahma.
"Aaaniiiiiiiiiisssss!!!!" teriak Wanda sekencang-kencangnya dari atas bukit, memanggil Anis yang sudah entah di mana rimbanya.
"Di manako, Aniiiiiiiiiiiissssssss?" Rifa ikut berteriak. Suaranya jauh lebih melengking.
Tak mau kalah eksis, Rahma juga ikut memanggil sekencang-kencangnya, "Anissss!" Tapi suaranya jauh lebih pelan dan pendek. Sekejap saja langsung lenyap disapu hembusan angin perbukitan.
Yani yang kutu buku nan kalem itu hanya berdiri tersenyum melihat kelakuan tiga temannya yang teriak-teriak tak jelas. Mungkin di dalam hati kecilnya ia juga ingin ikut berteriak, tapi gengsi dan memilih jaga image. Ia hanya melemparkan senyum-senyum tipis melihat 'kegilaan' sahabat-sahabatnya. Dalam hati mungkin dia membatin, "Oh, ternyata begini karakter dan sifat aslinya teman-temanku kalau dilepas ke alam liar." Haha.
"Itu sana kepalanya Anis muncul," Risda tiba-tiba menunjuk ke arah barat. Matanya sebagai akamsa rupanya sangat jeli menangkap siluet kecil dari jarak sejauh itu.
Barulah saat badan Anis mulai naik ke gundukan, kami semua bisa melihatnya. Posisinya cukup jauh, mungkin sekitar 500 meter dari tempat kami berdiri.
Entahlah apakah Anis mendengar suara teriakan Rahma, Wanda, dan Rifa. Sepertinya tidak, karena suara mereka kalah dengan suara angin yang menderu kencang.
Saya yang sudah memakai jaket dan berdiri di bawah terik matahari pukul empat sore saja masih merasa kedinginan. Kalau nekat tidak pakai jaket, dijamin langsung masuk angin.
Mulailah para gadis itu melancarkan aksi andalan: memotret sana-sini. Merekam pemandangan. Bikin video cinematic. Lari mondar-mandir menari-nari. Bahkan joget-joget bikin konten TikTok.
Saya sendiri memilih berlari agak jauh mendekati gerombolan kerbau. Saat jarak kami sudah cukup dekat, seekor induk kerbau dengan badan besar dan tanduk panjang tiba-tiba menatapku tajam dan melangkah mendekat. Spontan, saya langsung lari terbirit-birit kembali ke rombongan. Haha.
Setelah tenaga terkuras dan merasa sedikit lelah, kami pun memutuskan istirahat. Mengeluarkan amunisi camilan.
"Di sana meki istirahat. Bagus jaringan di sana," kata Anis menunjuk titik di ujung barat, tepat di tempatnya berkelana mengejar kuda tadi.
Kami memindahkan semua barang, camilan, dan minuman ke sana. Di sanalah kami bersantai sejenak. Rebahan di atas rumput hijau yang empuk, lalu bangkit lagi untuk duduk. Membuka bungkus snack, makan sambil bertukar cerita random sembari menanti sunset tiba.
Secara perlahan, kanvas cakrawala mulai berubah warna. Dari biru cerah menjadi gradasi oranye kekuning-kuningan. Sang surya perlahan turun. Pantulan cahaya keemasannya tampak berkilauan di atas permukaan laut di kejauhan. Kami duduk diam, mengabadikan momen magis pertemuan sekaligus perpisahan abadi sepasang kekasih alam semesta: siang dan malam.
![]() |
| Padang Indah |
![]() |
| Padang Indah |
Perjalanan Pulang
Matahari telah sepenuhnya terbenam. Hanya tersisa sedikit sisa cahaya memudar di ujung cakrawala. Kami harus bergegas pulang karena waktu Magrib sudah masuk. Buru-buru kami menaiki sepeda motor. Syukurlah kali ini jalurnya menurun, sehingga motor tidak perlu meraung kesakitan dan para 'boncengan' tidak ada yang perlu turun berjalan kaki. Di jalan, kami sempat berpapasan dengan beberapa petani lokal yang mungkin baru pulang dari kebun mereka.
Angin malam di atas bukit bertiup makin brutal. Udaranya turun drastis, terasa sangat dingin. Bahkan menurutku, lebih dingin dari suhu di Malino.
Kami singgah di sebuah masjid untuk menunaikan Salat Magrib yang dijamak dengan Isya. Di dalam masjid, suhunya jauh lebih stabil karena hembusan angin berhasil ditahan oleh tembok dan kaca jendela.
Kami meninggalkan pelataran masjid itu tepat pukul 18.45 WITA. Risda berpisah dengan kami untuk kembali ke rumahnya, sementara rombongan kami harus melanjutkan perjalanan panjang kembali ke Makassar.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa berkabar kalau sudah sampai," pesan Risda sebelum berpisah.
Suasana dalam perjalanan turun sangat sunyi. Kami membelah bukit dengan kondisi jalan menurun yang terjal. Nyaris tidak ada rumah penduduk. Jalanan penuh lubang menganga, dan tentu saja tidak ada lampu penerangan jalan. Satu-satunya sumber cahaya di tengah gulita hanyalah sorot lampu motor kami.
Biar lebih berasa vibes filosofi pendidikan dalam perjalanan ini: Anis dan Yani memimpin di depan sebagai ing ngarso sung tulodo. Di tengah-tengah formasi ada Rahma dan Rifa sebagai ing madya mangun karso—pasalnya mereka tidak hafal jalan dan takut kalau berada di belakang. Sementara itu, saya dan Wanda mengambil posisi tut wuri handayani.
Di kursi belakang, Wanda sepertinya sudah tumbang. Ia sangat mengantuk karena kecapekan ditambah kondisi udara yang menusuk tulang. Berkali-kali helmnya berbenturan keras dengan helmku.
Di tengah perjalanan, Anis kembali menepi di pom bensin. Padahal sorenya dia sudah mengisi. Entah memang jaraknya yang menguras bensin seliter demi seliter, atau memang mesin motornya saja yang boros bukan main.
Saya dan Rahma menepi menunggu di pinggir jalan poros. Yani turun dari jok motor lalu duduk meleseh di trotoar. Wanda? Dia tetap duduk tegak di atas motor dengan mata terpejam sempurna. Sepertinya kesadarannya sudah benar-benar melayang.
Tak lama Anis bergabung kembali. "Di mana-ki mau makan?" tanyanya memecah keheningan.
"Sembarang-ji," sahut Rifa cepat.
"Di Pangkep mo pale. Ada warung langgananku di sana," ujar Anis dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Yani kembali naik ke boncengan motor Anis, dan konvoi perjalanan pulang pun dilanjutkan.
Makan Nasi Kuning Ayam Kentaki 884 Pangkep
Di sepanjang Jalan Poros Pekkae-Soppeng, dua motor di depanku masih berkendara dengan santai. Kecepatan kami stabil di angka 50-60 km/jam.
Namun, begitu melewati lampu merah Jalan Poros Barru-Makassar, Rahma dan Anis mendadak ngabers. Kecepatan mereka makin gila. Motorku sudah dipacu hingga 80 km/jam tapi nyatanya masih tertinggal jauh. Wanda di belakangku, tentu saja, masih tertidur pulas dan tak peduli dengan balapan ini.
Pemandangan di motor depanku cukup kontras. Kalau Wanda tertidur nyenyak seperti patung, Rifa malah tak henti-hentinya bergerak atraktif di boncengan Rahma. Kalau bukan tangannya yang direntangkan ke udara, kakinya yang bergoyang-goyang riang. Dia tampak asyik mengobrol ngalor-ngidul dengan Rambo di tengah hantaman angin malam.
Tepat di lampu merah Tonasa 2, Bungoro, saya akhirnya berhasil menyusul mereka. Kali ini kecepatan berangsur turun ke angka 30 km/jam.
Tidak jauh dari lampu merah itu, Anis putar balik. Tepat di sebelah kiri jalan, berdirilah sebuah warung makan dengan neon box menyala: Nasi Kuning Ayam Kentaki 884.
"Ini mi yang kubilang langgananku," ucap Anis bangga.
"Weee, Wanda, sampai meki! Bangun meko!" Rahma setengah berteriak menghampiri Wanda yang masih mode sleep di atas motorku.
Dengan kesadaran yang baru terkumpul 10 persen, Wanda turun dari motor dengan gontai. Ia langsung berjalan masuk, mencari meja makan, melipat kedua tangannya di atas meja, dan... kembali tidur.
Kami semua pergi ke etalase memesan makanan. Menunya: Nasi kuning dengan ayam kentaki. Yani memesan 2 porsi, sekalian memesankan jatah untuk Wanda.
Nasi kuning ayam kentaki rekomendasi Anis ini ternyata memang bukan kaleng-kaleng. Rasanya jauh beda level dengan nasi kuning yang dimakan Rifa dan Wanda tadi pagi.
Perpaduan antara nasi kuning yang pulen, ayam kentaki renyah, mi goreng, dan kering tempe sungguh menggugah selera. Aromanya langsung menampar indra penciuman. Ada semburat wangi harum dari daun pandan, serai, daun jeruk, dan gurihnya santan yang menguar dari uap nasi kuningnya.
Untuk sambalnya, disediakan terpisah di dalam wadah di atas meja. Kami bebas mengambil secukupnya. Dan boom! Racikan terasi, cabai rawit, dan rempah lainnya benar-benar bikin nagih. Sensasi manis, pedas, dan gurih menyatu sempurna di mulut. Huhh, enak sekali. Kami melahap porsi masing-masing dengan beringas. Tentu saja, kecuali Wanda. Dia cuma menyuap beberapa sendok asal perut terisi, lalu menelungkupkan kepala dan kembali ke alam mimpinya.
![]() |
| Makan Nasi Kuning Ayam Kentaki 884 Pangkep |
Pulang ke Rumah Masing-masing
Setelah perut kembali terisi full, kami melanjutkan sisa perjalanan panjang ini. Rahma dengan sangat lincah menarik tuas gas motornya. Ia bermanuver gesit, secara bergantian menyalakan lampu sein di jalan lurus. Nyalip kiri, nyalip kanan. Kecepatannya tembus 80 km/jam, bahkan lebih.
Sepertinya adrenalin membalap gadis ini justru lebih menyala di malam hari dibanding siang. Saya bersusah payah mengejarnya dari belakang, sembari memastikan 'paket' di boncenganku tetap aman tertidur lelap. Sementara itu, Anis dan Yani di belakang sudah tertinggal entah di mana.
Di salah satu SPBU wilayah Maros, Rahma akhirnya menepi untuk isi bensin. Indikator bensin motornya ternyata sudah error. Saya pun ikut antre mengisi bensin. Wanda turun sejenak, lalu ia tertatih-tatih mencari kursi dan meja istirahat SPBU. Dan bisa ditebak, dia tidur lagi di sana. Rifa dan Rahma hanya bisa menertawakan kelakuannya. Haha.
Selesai mengisi amunisi, perjalanan dilanjutkan. Mata Wanda sudah benar-benar sayup tak tertolong. Dia memaksa membuka kelopaknya hanya untuk naik ke jok motor. Begitu bokongnya mendarat, ia langsung terlelap lagi.
Jam sudah menunjuk pukul 10 malam.
"Mau ki lewat mana, Kak?" tanya Rifa.
"Sembarang. Saya mengikut ji," balasku.
"Masih macet ini kayaknya kalau lewat jalan poros ki," ucapnya menganalisis.
"Kompas meki pale lewat jalan pas pergi tadi," aku memberi saran potong kompas.
"Amanji itu lewat sana jam begini, Kak? Soalnya nalarangka omku kalau lewat situ larut malam begini," balasnya ragu.
Yah, harus kuakui, jalur pintas yang kami lewati tadi pagi memang sangat sepi. Tidak ada macet, tapi cukup rawan kenakalan remaja, apalagi katanya pernah ada kasus pembusuran di daerah itu.
Diskusi singkat sambil melaju di atas motor itu dirasa cukup. Rahma langsung belok ke arah Arhanud, jalan menuju Kostrad. Sebelum markas Kostrad, kami belok kanan di pertigaan Pertamina Pamanjengan, terus melaju membelah kawasan Pattontongan. Kondisi jalanan sudah sangat sepi tak bertuan.
Dan seperti yang sudah diduga, helm Wanda kembali beradu mesra dengan helmku.
"Kak, masih jauhka?" gumam Wanda dari belakang dengan suara parau.
"Ndak lama mi. Setengah jam lagi," jawabku singkat menyemangati.
Di pinggir jalan yang sepi dan gelap, tiba-tiba Rahma mengerem dan berhenti.
"Kenapa?" tanyaku saat menyejajarkan motor.
"Ganti pemain, Kak. Ada masuki mataku," jawab Rahma sambil mengucek matanya. Ia lalu turun dan bertukar posisi, membiarkan Rifa yang mengambil alih kemudi.
Kini saya memimpin di depan. Sesekali mataku melirik ke belakang lewat kaca spion untuk memastikan mereka mengikuti. Tepat di perempatan Puskesmas Moncongloe, saya belok kanan. Terus lurus sampai menemukan pom bensin Pertamina, lalu belok kiri. Setelah melewati jembatan, belok kiri lagi masuk ke kawasan Perumahan Grand Sulawesi. Saya mengantar Wanda ke rumah Rifa.
"Bangun meko. Sampai meki!" seruku.
Setelah Wanda turun dari motor dengan mata setengah tertutup. Saya langsung menancap gas, berkendara sendirian menembus malam untuk pulang ke rumahku di Tompobulu.
Saya tiba di rumah kurang seperempat pukul 23.00.
*
DEMIKIANLAH cerita absurd perjalanan kami. Rencananya mau pamer liburan estetik di Toraja, eh jadinya malah Pekkae Eco Lodge Ecoriver Cafe dan Padang Indah. Haha, terima kasih sudah membaca sampai akhir!










Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar di bawah ini dan bagikan pendapat Anda tentang artikel di atas.