Memoar Satu Dekade di Usia Emas LPM Profesi UNM

Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50

Di usia emas LPM Profesi UNM, saya telah menjejakkan kaki selama satu dekade. Tepat sepuluh tahun lalu, saya mulai berkiprah di sini.

Sebenarnya, saya tidak mengenal LPM Profesi saat berstatus mahasiswa baru. Saya bahkan tidak berminat, apalagi merasa berbakat di bidang jurnalistik.

Semua bermula ketika seorang perempuan yang tidak saya kenal mengirim pesan pribadi di Facebook. Ia mengajak saya mengikuti Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD). Setelah berbalas pesan, ia datang langsung membawakan formulir ke Fakultas Teknik, tempat saya kuliah. Di sanalah kami berkenalan. Saya mengisi formulir dan memutuskan untuk mengikuti diklat.

DJMTD adalah gerbang awal saya mengenal Profesi. Di sini, saya mempelajari dasar-dasar jurnalistik, mulai dari penulisan berita, fotografi, desain grafis, layouting, hingga penyiaran. Hal menarik saat diklat, saya tidak hanya menerima materi, tetapi juga melakukan kunjungan media ke beberapa kantor berita lokal untuk melihat langsung proses produksi berita.

Momen paling berkesan saat diberi tugas mewawancarai pengunjung di Pantai Losari mulai pukul 01.00 hingga 03.00 dini hari. Keberanian serta mental diuji langsung di lokasi dan waktu yang menantang. Beberapa teman saya bahkan menemui pekerja malam di Jalan Nusantara untuk mewawancarai alasan mereka memilih pekerjaan tersebut.

Setelah DJMTD, saya menjalani masa magang selama enam bulan. Lanjut menjadi reporter daring. Kemudian ditunjuk jadi Pemimpin Redaksi. Terakhir diamanahkan sebagai Pemimpin Umum. Lebih dari tiga tahun saya bergelut di "lembaga kuli tinta" ini. Banyak suka dan duka mewarnai perjalanan saya.

Malam Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50

Malam Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50


Redaksi: Tempat Nyaman yang Kadang Tidak Aman

Redaksi bukan sekadar sekretariat atau kantor untuk memproduksi berita, melainkan sebuah rumah yang nyaman, meski terkadang tidak aman. Saya merasa nyaman karena para pengelola memberikan perlakuan berbeda dari apa yang pernah saya alami saat menjadi mahasiswa baru di Fakultas Teknik. Ya, walaupun terkadang kata-kata pengelola terasa perih mengiris hati, setidaknya tidak ada kekerasan fisik. Selain itu, hal membuat betah karena pengelola sering menyediakan makan malam di redaksi. Kadang makan siang di kantin Psikologi. Sesekali sarapan kue di pagi hari.

Sejak semester tiga, saya memutuskan untuk menetap di redaksi dan meninggalkan kos-kosan. Di redaksi, disediakan loker untuk menyimpan pakaian. Saya tidak lagi memikirkan biaya listrik dan air. Tidak jarang bensin dan makanan juga ditanggung. Namun, di balik semua kenyamanan itu, ada tanggung jawab wajib: meliput dan menulis berita.

Jika datang ke redaksi tanpa membawa berita—apalagi jika ada penugasan yang tidak selesai—bersiaplah menerima umpatan dari pengelola. Redaksi kadang menjelma jadi kebun binatang. Tidak jarang anggota magang diusir sebelum masuk pintu karena datang dengan tangan kosong. Banyak tidak tahan dan akhirnya memilih "muntaber" (mundur tanpa berita).

Di sisi lain, redaksi terkadang menjadi tempat tidak aman. Tapi saya tetap betah. Beberapa kali redaksi didatangi narasumber yang keberatan dengan pemberitaan. Pernah ada orang tak dikenal meneror, menyerang, hingga melempar batu ke dalam ruang redaksi pada tengah malam. Kami tidak pernah gentar menghadapi ancaman tersebut.

Ketidakamanan juga muncul dari lingkungan sekitar. Teman saya pernah dibegal di siang bolong tepat di depan gerbang redaksi. Ada kehilangan sepeda motor. Saya sendiri pernah kehilangan laptop dan ponsel sekaligus. Saat itu saya masih sementara penelitian tugas akhir di kampus. Beruntung, berkas penelitian sudah saya arsipkan di google drive sehingga data tidak hilang. Selama masa penelitian, seminar hasil, hingga ujian tutup, saya menggunakan komputer redaksi.

Selama beberapa pekan, saya hanya berkomunikasi dengan keluarga melalui Facebook. Kadang saya meminjam ponsel teman untuk menghubungi dosen. Seminar hasil dan ujian skripsi pun saya laksanakan di redaksi karena saat itu sedang pandemi Covid-19. Seandainya saya tidak ditunjuk sebagai perwakilan jurusan untuk wisuda di Gedung Pinisi, sudah pasti saya pun akan mengikuti prosesi wisuda di redaksi.

Malam Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50

Malam Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50

Malam Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50


Konflik dengan Prof. Husain

Salah satu momen paling mencekam selama di Profesi adalah ketika berkonflik dengan Rektor UNM, Prof. Husain Syam. Peristiwa itu terjadi di tengah kemeriahan perayaan Dies Natalis UNM di pelataran Pinisi. Saat Prof. Husain berkeliling bersama pejabat kampus, saya menghampirinya. Beliau menyapa dan menanyakan kabar berita terbaru dari Profesi.

Tiba-tiba, Wakil Rektor Bidang Akademik saat itu, Prof. Muharram, berujar kepada Rektor bahwa berita Profesi terkait sistem zonasi pendidikan terkesan ingin membenturkan UNM dengan Kementerian Pendidikan. Mendengar hal itu, secara spontan Prof. Husain yang sedang memegang botol air mineral kecil memukul bibir saya. Beliau marah dan menegur di depan umum.

Saya berusaha menjelaskan bahwa berita tersebut sudah sesuai fakta dan berimbang. Kami telah mewawancarai Kepala Dinas Pendidikan, Pak Irman Yasin Limpo, serta memuat tanggapan dari Prof. Husain dan Prof. Muharram. Memang terdapat perbedaan pandangan antara pihak dinas dan pimpinan UNM dalam laporan tersebut.

Pasca-insiden tersebut, saya meminta pertimbangan dari Dewan Redaksi dan Dewan Pendamping LPM Profesi sebelum memutuskan melapor ke Polsek Rappocini dan melakukan visum di RS Bhayangkara. Berita pemukulan ini seketika viral. Media lokal hingga nasional seperti Tirto.id, bahkan organisasi jurnalis internasional seperti International Federation of Journalists (IFJ), ikut memberitakannya. AJI Makassar pun turut memberikan advokasi.

Ponsel saya terus berdering menerima puluhan pesan dan panggilan dari nomor asing. Saya sempat tidak masuk kampus dalam waktu lama dan aktivitas di Profesi terjeda selama dua bulan. Saya fokus menyelesaikan masalah tersebut sembari menghadapi berbagai kabar ancaman.

Setelah laporan masuk ke kepolisian, beberapa pejabat kampus menghubungi saya, termasuk utusan Rektor untuk mediasi. "Jalan tengah" banyak didiskusikan di warung kopi. Akhirnya, saya memutuskan mencabut laporan dengan permintaan rektor mengakui kesalahannya dan tidak melakukan hal serupa di masa depan. Komunikasi saya dengan pak Rektor baru kembali mencair sekitar tiga bulan kemudian saat bertemu kembali di Gedung Pinisi.

Malam Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50

Malam Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50


Profesi Sebagai Laboratorium Ilmu

Bagi saya, Profesi adalah laboratorium ilmu. Di sini saya belajar banyak hal, baik soft skill, hard skill, maupun dinamika hidup yang tidak didapatkan di ruang kelas. Kerja jurnalistik membuat saya lebih memahami kehidupan kampus yang merupakan miniatur sebuah negara. Profesi memberi saya akses untuk menjelajahi setiap sudut kampus, menemui siapa pun, dan bertanya tentang apa saja. Jejaring saya meluas.

Sebagai UKM, Profesi juga mengajarkan manajemen organisasi: cara merancang, melaksanakan, hingga mengevaluasi program kerja. Berorganisasi melatih kepemimpinan, kerja sama tim, kemampuan komunikasi, manajemen waktu, hingga kecerdasan emosional.

Aspek kekeluargaan juga sangat kental. Saya melampaui setiap tahapan—magang, pengelola harian, pengelola inti, hingga pemimpin umum—dengan tantangan tersendiri. Masa magang ibarat anak kecil yang baru belajar berjalan. Di sini saya mulai belajar wawancara dan menulis berita. Di tingkat pengelola harian, saya belajar menjadi "kakak" yang membimbing adik-adik magang.

Terakhir sebagai pengelola inti. Di sini ibarat orangtua yang bijak mendidik anak-anaknya. Tingkatan ini tidak lagi belajar bagaimana cara mengajar anak menulis berita.  Sebagai “orangtua”, ada beban lain yakni bagaimana memikirkan agar kehidupan di keluarga Profesi bisa tetap jalan. Rasa kekeluargaan terbentuk bukan hanya sesama angkatan atau pengurus. Tapi lintas angkatan mulai dari awal sampai pengelola baru.

Malam Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50

Malam Puncak Harla LPM Profesi UNM ke-50


Harapan di Tahun Emas

Setengah abad berkarya bukanlah waktu yang singkat. Pengurus silih berganti dan berbagai tantangan telah dilalui—mulai era Orde Baru, Reformasi, hingga disrupsi digital. Alhamdulillah, Profesi tetap eksis.

Ini membuktikan Profesi masih bermanfaat, dipercaya, dan dibutuhkan. Bukan hanya oleh civitas akademika, tetapi juga oleh alumni dan masyarakat luas. Mereka masih menantikan karya dari UKM pertama di kampus "pencetak pahlawan tanpa tanda jasa" ini.

Civitas akademika membutuhkan informasi yang aktual dan faktual. Tak hanya sebagai pembawa berita, peran Profesi sebagai kontrol sosial sangat penting demi menjaga kebijakan kampus yang demokratis. Di tengah derasnya arus media sosial yang sering kali tidak terverifikasi, Profesi harus tetap terdepan dalam menyajikan fakta yang terverifikasi.

Semoga di usia emas ini, LPM Profesi UNM semakin bersinar, terus beradaptasi dengan zaman, dan tetap memegang teguh idealismenya.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di bawah ini dan bagikan pendapat Anda tentang artikel di atas.