Buang-Buang Waktu di Medsos

Ilustrasi media sosial (Sumber: freepik.com)
Ilustrasi media sosial (Sumber: freepik.com)

DULU, saat sibuk bekerja, seakan tidak ada waktu untuk belajar hal baru di luar tugas pekerjaan. Padahal, jiwa ini butuh tambahan pengetahuan baru. Juga meningkatkan kemampuan diri.

Setiap awal tahun, hanya selalu membuat resolusi baru. Aktif ke kegiatan inilah, jalan-jalan pergi liburan, atau membaca buku banyak-banyak.

Tapi realita jauh panggang dari api. Yang ada mulai bangun tidur, pikiran langsung pada pekerjaan. Bekerja kadang hingga larut malam.

Pulang ke indekos hanya untuk tidur. Bangun tidur, hanya mandi, langsung kembali bekerja.

Sebagai pemula di pekerjaan itu, sulit untuk mengatur waktu. Karena pekerjaan tidak mengenal waktu.

Beda halnya saat saya masih bekerja sebagai guru honorer. Waktu bekerja sudah ditentukan. Masuk pagi pukul 07.00 hingga pukul 16.00. Setelah itu, bisa membuat agenda lain.

Di pekerjaan baru saya, waktu bekerja tidak menentu. Terkadang sulit untuk membuat agenda lain. Sebab, penugasan selalu datang tiba-tiba. Tidak terprediksi.

Tapi, sebenarnya pekerjaanku ini terbilang santai. Tidak menguras banyak tenaga. Yang terkuras habis-habisan adalah pikiran. Hehe. 

Pendapatannya juga lumayanlah jika dibandingkan saat menjadi honorer di sekolah. Setidaknya bisa untuk kebutuhan hidup. Juga persiapan untuk menikah..Upss...

Yah begitulah perasaan saya diawal-awal bekerja. Meski sebenarnya dalam sehari waktu lowong juga cukup banyak. Hanya itu tadi, penugasan yang tidak bisa diprediksi.

Meski dalam hal lain kurang produktif, termasuk mengisi blog ini, tapi di bidang pekerjaan itu cukup produktif.

Baca Juga: FOMO Threads, Penantang Baru Twitter

***

Ketika sakit awal ramadan lalu, saya istirahat bekerja. Betul-betul istirahat.

Di rumah, tidak ada aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran yang saya lakukan.

Tiap hari hanya bangun, mandi, makan, ibadah, sekali-kali baca buku. Tapi waktu yang paling banyak terbuang adalah di media sosial.

Selama satu semester lebih saya tidak memikirkan pekerjaan. Apalagi bekerja. Sama sekali tidak. Saya benar-benar istirahat total di rumah.

Selama istirahat di rumah, sebenarnya kesempatan untuk membaca buku itu banyak sekali. Minat baca cukup tinggi.

Beberapa koleksi buku fisik di rumah belum selesai saya baca. Mungkin kurang menarik. Atau data baca saya yang memang masih lemah.

Kadang juga saya membaca e-book. Tapi masih kurang maksimal.

Magnet gawai begitu kuat hingga membuat candu. Fitur dan tayangan-tayangan di media sosial begitu menggoda.

Reels yang bertebaran di Instagram begitu memikat. Begitu nyaman. Hingga waktu banyak habis dalam melakukan scrolling media sosial.

Secara bergantian dibuka. Facebook. Lalu ke Instagram. Ke WhatsApp. Twitter. Threads. YouTube. Kembali lagi ke Facebook. Lalu Instagram. Begitu seterusnya.

Untung saja saya tidak punya tiktok. Dan memang saya tidak tertarik menggunakan aplikasi asal Tiongkok itu. Meski penggunaannya saat ini begitu melimpah.

Yah, aktivitas itu begitu nyaman saya lakukan dalam keadaan sakit. Rasanya, berbaring di rumah seharian atau sekadar duduk di teras tanpa memegang gawai itu betul-betul membosankan.

Saya pernah mencobanya ketika menyadari waktu saya di media sosial tidak bermanfaat.

Mulailah saya menghapus beberapa aplikasi media sosial di gawai. Seperti Twitter dan Threads.

Instagram sempat saya hapus. Tapi selalu saja penasaran dengan perkembangan isu terbaru.

Kalau Facebook memang tidak pernah saya hapus. Karena saya lupa kata sandinya. Dan aplikasi ini saya gunakan ketika bekerja.

Dan memang saya tidak terlalu aktif di Facebook. Kadang hanya mengecek pemberitahuan. Atau sekadar membaca tulisan-tulisan menarik dari penulis keren. Seperti catatan Dahlan Iskan yang selalu terbit setiap hari di waktu pagi.

Media sosial yang paling banyak waktu saya habis adalah Instagram. Kadang tidak sadar scrolling story atau reels hingga berjam-jam.

Memasuki November tahun lalu, saya mulai membatasi bermedia sosial. Saya menemukan fitur waktu pemakaian perangkat di android.

Di situ, saya bisa melihat dalam sehari rerata waktu yang saya gunakan di gawai. Waktu penggunaan aplikasi juga detail.

Mulailah saya mengatur waktu untuk aplikasi Instagram dan Facebook maksimal 30 menit. Setelah waktunya habis, aplikasi itu tidak bisa lagi terbuka hingga malam. Aplikasinya bisa terbuka kembali keesokan harinya. Begitu setiap harinya.

Dengan begitu, waktu menggunakan gawai dan juga bermedia sosial sudah terbatasi.(*)

Tanda Tangan Wahyudin Tamrin

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca sampai selesai. Yuk berkenalan lebih lanjut dalam kolom komentar.