Kenangan Indah di MIS Al Khairaat Kanawu

Guru dan siswa MIS Al Khairaat Kanawu

Siswa MIS Al Khairaat Kanawu, di Kecamatan Lindu, Sigi, Sulawesi Tengah.
Siswa MIS Al Khairaat Kanawu, di Kecamatan Lindu, Sigi, Sulawesi Tengah.

KAMI bersepuluh. Plus dua guru. Inilah semua siswa MIS Al Khairaat Kanawu. Waktu itu antara tahun 2006-2007. Dari kiri ke kanan -Kasmin, Erwin, Dandi, Ipul, Hasna, Raisa, Andito, Pikar, Wahyudin, Sukma. Plus kak Abri dan Ibu Tia.

Foto ini saya temukan di beranda Facebook kak Abri -guru kami yang tidak ingin dipanggil bapak guru. Saat mengajar, dia begitu garang. Tapi di luar kelas, kak Abri adalah teman bermain yang asyik.

Sekilas, namanya terdengar familiar bagi masyarakat yang lahir dan besar di masa orde baru: ABRI. 

Meski namanya Abri dan memiliki postur cukup tinggi, dia bukanlah tentara. Dia hanya lulusan SMA yang bekerja sebagai petani dan rela mengabdi sebagai honorer di MIS Al Khairaat Kanawu, tempat saya sekolah dulu.

Katanya, nama itu diberikan karena dia lahir pada 5 Oktober, bertepatan hari ulang tahun ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) -sekarang disebut TNI. 

Itulah alasan dia diberi nama Abri. Nama lengkapnya: Abriyanto.

Saya tidak ingat kapan kejadian foto ini. Saya perkirakan antara tahun 2006-2007. Tapi saat melihatnya, pikiranku terbang jauh ke belakang. Kira-kira 19 tahun lalu.

Ternyata banyak cerita menarik saat sekolah dasar dulu. Menariknya baru sekarang. Setelah saya melewati berbagai nikmat kehidupan. Waktu menjalaninya dulu, rasanya biasa saja.

Ditolak SDN Maradindo, Diterima MIS Al Khairaat Kanawu

Tahun 2005 lalu, saya merantau ke Sulawesi Tengah. Lebih tepatnya di Kecamatan Lindu. Waktu itu masih wilayah Kabupaten Donggala. Sekarang sudah mekar jadi Kabupaten Sigi.

Kecamatan Lindu hanya berjarak sekitar 60 kilometer ke arah selatan dari Kota Palu. Tapi aksesnya cukup menantang. Ada begitu banyak lapis gunung yang harus ditembus. Jalanan curam.

Apalagi tempat saya dan keluarga mengadu nasib. Tidak cukup hanya naik mobil setengah jalan dan ojek setengah jalan. Tapi juga harus naik perahu menyeberangi Danau Lindu, danau terluas kedua di Sulawesi Tengah.

Kemudian melewati perkampungan. Lalu masuk ke hutan -sekarang sudah jadi kebun. Disanalah saya tinggal. Di tengah kebun. Tidak ada tetangga.

Waktu ke Lindu, saya baru saja naik kelas 3 SD. Usiaku masuk sembilan tahun. Di kampung itu ada dua sekolah. 

Pertama SDN Maradindo. Itu adalah sekolah negeri yang paling favorit. Unggulan. Siswanya banyak sekali. Tidak bisa hanya dihitung jari. Harus pakai kalkulator.

Saya pun mendaftar di sekolah itu. Tapi tidak sesuai harapan. Saya ditolak. Guru di sana menyarankan ke MIS Al Khairaat Kanawu, sekolah swasta yang berasas Islam di kampung itu.

Saya tidak tahu alasannya kenapa ditolak. Mungkin karena siswa di SDN Maradindo sudah membludak. 

Sangat timpang dengan MIS Al Khairaat Kanawu yang kekurangan siswa. Padahal sekolah itu berdekatan. Jaraknya hanya sekitar 300 meter.

Atau mungkin karena latar belakang sekolah asal saya yang serumpun dengan MIS Al Khairaat Kanawu. Sebelumnya, saya sekolah di MIS DDI Sakeang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Saat bertemu guru di MIS Al Khairaat Kanawu, tidak banyak persyaratan. Tidak banyak pertanyaan. Tidak ada tantangan. Semua berjalan mulus. Lancar seperti lewat jalan tol. Saya langsung diterima.

Tidak Punya Teman Sekelas

MIS Al Khairaat Kanawu adalah satu-satunya madrasah di kampung itu -yah karena memang hanya ada dua sekolah. Siswanya sedikit sekali. Bisa dihitung jari. Tidak cukup sepuluh.

Mungkin hanya lima atau enam orang waktu itu. Saya tidak ingat jelas. Yang pasti, siswanya hanya kelas 1 dan 2. Siswa kelas 3 sampai 6 tidak ada. Saya tidak tahu apakah sebelumnya pernah ada atau memang sekolah itu baru dua tahun menerima siswa baru.

Saya jadi siswa kelas 3 pertama. Hanya seorang diri. Lanjut ke kelas 4 juga seperti itu (sebenarnya sempat ada teman satu orang pindahan, tapi hanya sebulan, dia pindah lagi). Naik kelas 5 lagi-lagi masih sendiri.

Karena hanya sendiri, otomatis saya selalu peringkat 1. Juara yang sebenarnya tidak membanggakan. Haha di raport tertulis peringkat 1 dari satu siswa.

Saya tidak ingat bagaimana rasanya belajar sendiri. Karena waktu itu saya belum mengenal jenis-jenis rasa. Saya hanya belajar sesuai petunjuk guru.

Yang pasti saya selalu belajar dengan tenang di kelas. Tidak pernah ribut dengan teman. Karena memang tidak punya teman. Hahaha.

Kadang juga saya belajar digabung dengan adik kelas. Sama-sama mempelajari mata pelajaran yang sama, tapi ujiannya dibedakan.

Paling sering kami belajar matematika. Kak Abri sangat cerdas matematika. Hampir tiap hari kami belajar matematika. Lantaran seringnya, waktu SD saya sampai hafal perkalian 1 sampai perkalian 20. Sekarang sudah lupa sebagian.

Kedatangan Siswa Baru

Ketika naik kelas 6, sekolah kami kedatangan siswa baru. Pindahan dari SDN Maradindo. Namanya Agustiawan. Keren sekali kan namanya. Tapi panggilannya Apong. Tetap keren sih.

Cuman, nama panggilannya cukup jauh melenceng dari nama aslinya. Padahal bisa dipanggil Agus. Mungkin karena dia punya teman perempuan, bapaknya temannya namanya Agus. Sehingga Apong tidak mau dipanggil Agus.

Saya tidak tahu kenapa Apong memilih pindah ke MIS Al Khairaat Kanawu saat naik kelas 6. Padahal sekolah asalnya SDN Maradindo. Sekolah negeri. Unggulan. Favorit di kampung itu. Siswanya banyak sekali.

Sangat timpang dengan siswa MIS Al Khairaat Kanawu yang siswanya hanya saya sendiri kelas 6.

Mungkin Apong tidak ingin bersaing dengan banyak orang. Sulit dapat peringkat 1. Kalau di MIS Al Khairaat, saingannya hanya saya. Jadi peluang untuk juara besar sekali. 

Kalau rajin belajar bisa dapat juara 1. Pun kalau malas, minimal paling rendah dapat juara 2. Karena kami hanya berdua.

Setidaknya bisa jadi kebanggaan untuk diceritakan ke anak-anak kita nantinya: "Bapak ini dulunya waktu SD tidak pernah peringkat 3. Selalu juara 1. Atau juara 2." Hahaha.

Selama dua semester kami puas berbagi juara. Semester pertama saya juara 1. Saat semester akhir sekaligus ujian nasional, nilainya lebih tinggi dari saya. Gantian, Apong juara 1.

Baca Juga: 

Ujian di Seberang Danau Lindu

Kami tidak ujian sendiri di sekolah. Kami ke kampung lain di seberang danau. Tepatnya di Dusun Kalora. Di sana seluruh sekolah se-Kecamatan Lindu disatukan.

Total ada sepuluh sekolah dengan siswa sebanyak 64 orang. Itu seingat saya. Semoga tidak keliru.

Siswa MIS Al Khairaat Kanawu paling sedikit. Hanya dua orang. Sekolah lain ada lima, tujuh, sembilan, sebelas, dan paling banyak 15 orang. Sekolah paling banyak dari Puro. Terbanyak kedua mungkin SDN Maradindo.

Saat ujian nasional, dalam satu ruangan seingat saya 15 orang. Saya dan Apong satu ruangan bersama siswa dari Puro. Mereka 13 orang.

Dalam ruangan mereka cukup ribut. Bicara pakai bahasa daerah Lindu yang saya tidak mengerti. Mungkin karena mereka semua saling kenal. Juga dari sekolah asal yang sama. Apalagi mereka juga banyak perempuan.

Di hari terakhir ujian, Apong mulai nakal. Foto salah satu cewek Puro yang cantik yang tertempel di mejanya, Apong ambil tanpa sepengetahuannya. Kemudian disimpan di dompetnya. Hahaha. Dia ragu meminta langsung apalagi menembak.

Kurang dari seminggu kami ujian. Setelah itu kami pulang. Menunggu pengumuman selama beberapa hari hingga pekan.

Akhirnya diumumkan. Kami berdua lulus. Siswa MIS Al Khairaat Kanawu lulus 100 persen di tahun 2009.

Kenangan Indah

Meski MIS Al Khairaat Kanawu adalah sekolah swasta, sarana dan prasarananya terbatas, gurunya hanya dua (waktu itu), siswanya sedikit sekali, saya bersyukur pernah sekolah di sana. Saya tetap bangga menceritakan pengalaman indah ini.

Di MIS Al Khairaat Kanawu, saya banyak belajar ilmu dasar yang jadi pondasi dalam melanjutkan pendidikan hingga jadi sarjana.

Ada banyak cerita menarik sekolah di sana. Waktu itu masih banyak siswa tidak pakai sendal dan sepatu di sekolah: benar-benar telanjang kaki belajar. Sarana dan prasarana masih sangat terbatas.

Kadang juga sepatu di simpan di sekolah. Ketika sampai di sekolah baru dipakai. Kalau mau pulang dilepas lagi. Disimpan di sudut kelas.

Sepatu baru dibawa pulang pada hari Sabtu. Itupun tidak dipakai. Dilepas dulu baru dijinjing pulang ke rumah.

Kondisinya memang tidak memungkinkan untuk pakai sepatu pulang ke rumah. Jalan becek. Berlumpur. Banyak kubangan. Karena jalan yang kami lewati, juga dilalui kerbau. Haha.

Apalagi, saya tinggal di kebun. Jauh dari perkampungan. Dalam perjalanan, melewati berpuluh hektar kebun kakao. Ada juga masih hutan-hutan. Jalanan penuh rumput nan tinggi. Jadi kalau pakai sepatu pasti basah. Atau bisa tenggelam di jalanan berlumpur.

Bahkan beberapa diantara kami ke sekolah hanya pakai baju biasa dan celana boxer. Seragam sekolah disimpan di tas. Nanti kami sampai di sekolah baru pakai seragam sekolah. Baju putih, celana merah, sama sepatu. Haha.

Kemudian yang unik adalah seragam kami. Perempuannya pakai jilbab, laki-laki pakai peci. Tapi baju lengan pendek, begitupun rok/celana juga pendek. Padahal sekolah kami madrasah.

Yang tidak kalah menarik adalah siswanya yang bisa dihitung jari. Inilah (di foto) semua siswa MIS Al Khairaat Kanawu waktu itu. Hanya 10 siswa dan dua guru.

Saya mulai pindah ke madrasah ini saat naik kelas tiga. Waktu itu hanya ada siswa kelas 1 dan 2. Kelas 3 sampai 6 belum ada. 

Saya tidak tahu apakah sebelumnya pernah ada atau memang sekolah itu baru dua tahun menerima siswa baru. Bagi saya itu tidak penting. Yang terpenting saya bisa sekolah.

Mungkin inilah satu-satunya foto saya di sekolah waktu SD. Selain foto di ijazah.

Maklum. Waktu itu belum ada yang punya gawai. Beda dengan sekarang yang bahkan anak belum sekolah pun sudah punya seluler cerdas.(*)

Tanda Tangan Wahyudin Tamrin

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca sampai selesai. Yuk berkenalan lebih lanjut dalam kolom komentar.