Menilik Warga Bakar Rumah Sendiri

Bahaya tersulut emosi sesaat. Rumah sendiri dibakar. Penyesalan di belakang.


KEMARIN, warga di Tompobulu, Maros, heboh karena kebakaran. Sebuah rumah panggung ludes dilahap si jago merah dalam sekejap. Videonya tersebar di group WhatsApp warga.

Karena lokasinya di kaki gunung, jauh dari perkotaan, sehingga mobil pemadam kebakaran terlambat tiba. Api sudah terlanjur menghanguskan seisi rumah.

Rumah itu terbakar tidak terkira. Penyebabnya bukan korsleting listrik atau kompor yang lupa dimatikan seperti pada umumnya.

Setelah cek per cek, ternyata rumah itu terbakar karena dibakar oleh pemiliknya sendiri. Hal itu diketahui dari anak pemilik rumah yang melihat secara langsung.

Setelah membakar rumahnya, dia langsung pergi. Entah kemana. Alasan dia membakar rumahnya juga belum diketahui.

Dia pergi meninggalkan sang istri dan anak gadis yang masih remaja. Mereka menangis histeris. Kini tidak ada lagi tempat tinggal. Sementara suami entah pergi kemana.

Di Makassar, tahun lalu, juga hal serupa pernah terjadi. Tapi saat itu alasan pemilik membakar rumahnya jelas. Pemiliknya berada di lokasi saat kebakaran terjadi.

Berawal dari gerombolan satpol PP ingin menyita rumah tersebut. Sebab, si pemilik rumah menggadaikan sertifikat ke pihak bank.

Namun, hingga batas waktu yang disepakati, si pemilik rumah itu tidak sanggup membayar hutangnya di bank. Sehingga, pihak bank menyita secara paksa rumah tersebut.

Si pemilik rumah tidak terima. Adu mulut dengan satpol PP sempat terjadi. Warga sekitar berkerumun. Menonton kejadian tersebut.

Karena sudah mendapat tekanan, si pemilik rumah itu tersulut emosi. Kemudian menyiram bensin dari lantai dua rumah itu. Kemudian membakarnya.

Dalam sekejap, api melahap dengan ludes. Hanya tersisa tembok di lantai satu.

Pemilik rumah itu hampir diamuk massa. Polisi datang mengamankan. Menahan warga yang tersulut emosi.

Polisi pun membawa si pemilik rumah itu ke kantor polisi. Lalu ditahan.

***

Pada peristiwa kedua, saya meliput langsung kebakaran itu. Mendapat keterangan dari warga saksi mata, juga ketua RW setempat.

Alasannya jelas. Karena faktor keuangan. Itulah bahayanya jika tidak punya penghasilan tetap, kemudian pergi pinjam uang dengan jumlah banyak di bank. Apalagi sampai sertifikat rumah digadaikan.

Sementara peristiwa pertama, saya belum tahu persis akar masalahnya. Hanya fakta dilapangan yang tampak.

Saya tidak tahu bagaimana hubungan keluarga tersebut, pun dengan kondisi keuangannya.

Tapi, hubungan yang retak, ditambah kondisi keuangan yang terpuruk, apalagi jika sudah terlilit hutang, setan akan sangat mudah mempengaruhi untuk bertindak hal seperti itu.

Oleh karena itu, bercermin dari dua peristiwa di atas, sebelum meminjam uang, atau menggadaikan sertifikat, terlebih dulu pikir jangka panjang.

Jangan sampai pasak lebih besar daripada tiang. Pengeluaran ataupun utang lebih besar daripada penghasilan. Bagus kalau ada penghasilan meski sedikit. Kalau tidak ada sama sekali, itu yang bahaya.(*)

signature
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url